Jumat, 22 Januari 2010

WARAK, KEBUDAYAAN YANG TERLUPAKAN


WARAK, KEBUDAYAAN YANG TERLUPAKAN

“Siapa yang kenal warak?” Mungkin pertanyaan itulah yang seharusnya ditanyakan, alih-alih pertanyaan “Siapa yang tak kenal warak?”. Ya, dari antara sekian banyak kebudayaan asli Semarang, warakngendog memang kebudayaan yang paling terlupakan. Warak adalah binatang imajiner hasil kebudayaan asli masyarakat Semarang. Warak digambarkan memiliki tubuh seperti kambing, dengan kepala naga dan berleher tinggi seperti unta. Tubuhnya bersisik seperti ikan dan terdapat telur pada bagian bawahnya. Pada setiap sudut tubuhnya, selalu bersudutkan tegas. Bentuk-bentuk ini melambangkan keragaman masyarakat Semarang yang bersifat egaliter, kerakyatan dan suka berterusterang. Warak juga menjadi lambang kerukunan antara etnis jawa, cina dan arab yang ada di Semarang.
Pada awalnya, warak sering ditampilkan pada kegiatan pasar malam sekitar tahun 1935. Seiring berjalannya waktu, warak ditampilkan saat festival dugderan pada awal bulan puasa. Asal katanya sendiri berasal dari bahasa Arab wira’i yang berarti menahan atau mencegah. Maksudnya adalah agar selama bulan puasa kita dapat menahan diri dari segala godaan.(telur melambangkan pahala yang didapat setelah memenangkan bulan puasa). Saat ini, perkembangan warak tanpa disadari semakin kaya. Mulai bermunculan warak-warak berbagai bentuk, seperti berkepala barongsai, atau berkepala kambing. Tapi semua bentuk itu tetap mencerminkan pluralitas masyarakat Semarang.
Sayangnya, perhatian pemerintah pada kebudayaan ini sangatlah minim. Warak hanya ditampilkan pada momenum tertentu seperti dugderan, tanpa ada nya moment, maka warak pun jarang keluar, sehingga semakin sedikit orang yang mengenalnya. Hanya orang tua kita, generasi kepala empat ke atas yang masih mengenal warak dengan baik. Sungguh disayangkan, mengingat sebenarnya generasi muda kitalah yang akan terus melestarikan kebudayaan kita, bukan lagi generasi orang tua kita. Perhatian pemerintah kepada budayawan dan para pelestari kebudayaan pun belum cukup. Banyak lembaga pelestari kebudayaan yang didirikan dan diorganisir secara swadaya, tanpa meminta bantuan pemerintah.
Tidak ada konklusi. Hanya pertanyaan,, ”sekarang, sudahkah anda mulai mengenal warak?”
Semoga segera.

1 komentar:

  1. Baru denger tu nama warak..
    Saya rasa saya tidak sendiri,, pasti banayk orang tidak tau warak.. (Orang semarang jangan dihitung ya).. Saya sendiri lebih sering mendengar facebook,, atau twitter,, ga pernah denger warak..

    Terimakasih atas penjelasannya,, sangat inspiratif menambah khazanah budaya..
    Joe..

    BalasHapus

 
Wordpress Theme by wpthemescreator .
Converted To Blogger Template by Anshul .