Rabu, 06 Januari 2010

Media : Representasi dan Konstruksi

Representasi adalah sebuah fenomena yang, dalam bentuk-bentuk yang berbeda (peristiwa mental, pernyataan verbal, gambar, suara, dll), memperlihatkan sebuah ciri simbolis yang menggantikan obyek itu sendiri, dan dimana obyek itu bisa berasal dari dunia materi, peristiwa, manusia, sosial, ide, dan imajiner
(http://diannisa.wordpress.com/2008/04/20/apa-itu-representasi-sosial/)
Merujuk dari definisi yang disebutkan diatas, disesuaikan dengan kondisi media dan representasi sosial yang dilakukannya, dapat dikatakan bahwa isi media bukan merupakan cerminan realitas sosial masyarakatnya. Peristiwa yang sering diberitakan media massa baik media elektronik maupun media cetak sesungguhnya seringkali berbeda dengan peristiwa sebenarnya. Hal ini dapat terjadi karena media tidak semata-mata sebagai saluran pesan yang pasif akan tetapi media pun aktif melakukan konstruksi terhadap peristiwa.
Selama ini kita sering terperangkap oleh statement, bahwa media menayangkan apa yang terjadi di masyarakat, padahal yang terjadi sebenarnya adalah media mengambil sebuah realitas dari masyarakat, menyaringnya dengan cara mengambil realitas yang diinginkan dan membuang realitas yang tidak diinginkan. Lalu, sebagian realitas yang ingin ditunjukkan tersebut, dibingkai sedemikian rupa sehingga membentuk sebuag realitas baru, yang kemudian ditayangkan. Dengan demikian, masyarakat mendapati bahwa ‘realitas setengah matang’ tersebut adalah realitas yang sesungguhnya terjadi.
Melalui iklan, media mencoba menciptakan kebutuhan manusia. Hal yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan, dikonstruksikan sehingga menjadi sangat dibutuhkan. Banyak sekali iklan yang menayangkan inti yang sama, perbaikan bentuk tubuh. Memang, tubuh kita adalah bahan konsumtif yang paling semarak. Melalui iklan-iklan kecantikan tubuh, penambah semangat serta kesehatan tubuh, media berusaha membuat realitas baru bahwa tubuh yang cantik adalah yang halus, putuh dan wangi. Hal ini bertentangan dengan realitas yang ada sebenarnya, bahwa kulit penduduk Indonesia- termasuk wanita, yang paling konsumtif dalam hal ini- rata-rata berwarna coklat atau kuning langsat. Realitas baru yang diciptakan oleh media ini sama sekali tidak merepresentasikan keadaan yang ada, malah membuat realitas baru (realitas kekinian)
Melalui berbagai instrumen yang dimilikinya media berperan serta membentuk realitas yang tersaji dalam pemberitaan. Kontruksi terhadap realitas dapat dipahami sebagai upaya “menceritakan” (konseptualisasi) sebuah peristiwa, keadaan, benda atu apapun.
Wartawan ketika melihat suatu realitas ia menggunakan pandangan tertentu sehingga realitas yang hadir merupakan realitas yang subjektif. Berbeda dengan dengan pandangan yang mengandaikan terdapat realitas “berada diluar sana” yang objektif, mengutip jargon film seri fiksi ilmiah The “X” Files, the truth is out there (kebenaran itu berada di luar –manusia). Realitas (fakta) bukanlah sesuatu yang terberi (reality is not given) melainkan ada dalam benak kita ungkap James W. Carey. Fakta atau realitas itu diproduksi dan dikonstruksi dengan menggunakan perspektif tertentu yang akan dijadikan bahan berita oleh wartawan. Maka tak mengherankan jika media memberitakan berbeda sebuah peristiwa yang sama karena masing-masing media memiliki pemahaman dan pemaknaan sendiri.
Dalam pandangan Peter D. Moss berita di media massa merupakan konstruksi kultural, dalam melihat realitas sosial media menggunakan kerangka tertentu untuk memahaminya. Media melakukan seleksi atas realitas, mana realitas yang akan diambil dan realitas mana yang ditinggalkan. Juga media kerap memilih nara sumber mana yang akan diwawancarai dan nara sumber mana yang tidak diwawancarai. Melalui narasinya media sering menawarkan definisi-definisi tertentu mengenai kehidupan manusia. Mana yang baik dan mana yang buruk, siapa pahlawan dan siapa penjahat, apa yang layak dan apa yang tidak layak untuk dilakukan seseorang. Dalam ungkapan Dennis McQuail, media massa merupakan filter yang menyaring sebagaian pengalaman dan menyoroti pengalaman lainnya dan sekaligus kendala yang mengahalangi kebenaran.
Dalam kegiatannya melaporkan peristiwa yang terjadi, pada dasarnya media menafsirkan dan merangkai kembali kepingan-kepingan fakta dari realitas yang begitu kompleks sehingga membentuk sebuah kisah yang bermakna dan dapat dipahami oleh khalayak. Menurut Eriyanto ada tiga tingkatan bagaiamana media membentuk realitas, pertama media membingkai peristiwa dalam bingkai tertentu. Kedua, media memberikan simbol-simbol tertentu pada peristiwa dan aktor yang terlibat dalam berita. Ketiga, media juga menentukan apakah peristiwa ditempatkan sebagai hal yang penting atau tidak. Tidak berlebihan jika Tony Bennet menyebut media sebagai agen konstruksi sosial.
Media. Konstruksi atau representasi kah?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Wordpress Theme by wpthemescreator .
Converted To Blogger Template by Anshul .