

Sumatra Utara. Daerah geografis yang banyak didiami oleh suku Batak ini memiliki banyak cerita tersendiri. Mulai dari tanahnya yang subur, udara yang sejuk, karakteristik penduduknya yang keras dan suka petualangan hingga kebudayaan nya yang unik namun terlestarikan. Salah satu unsur kebudayaan yang terlestarikan adalah adanya kesadaran melestarikan budaya patriarki.
Marga salah satu contohnya. Dari sekian banyak keturunan dan keluarga Batak, marga menjadi salah satu penanda kekeluargaan. Mereka dapat saling mengenal silsilah dan hubungan antar keluarga dengan meneliti marganya. Konon, marga adalah nama raja pada zaman dahulu yang memerintah pada suatu daerah. Masyarakat Batak saat ini pada umumnya memiliki kebanggaan lebih jika memiliki anak laki-laki daripada hanya memiliki anak-anak perempuan. Hal ini dikarenakan anak laki-laki lah yang nanti akan meneruskan marga keluarga tersebut dan jika dikaitkan dengan harta warisan,anak laki-laki lah yang akan meneruskan warisan tersebut. Jika tidak ada anak laki-laki dalam keluarga, maka konsekuensinya adalah marga keluarga itu akan berhenti sampai disitu dan warisan akan jatuh ke tangan keluarga lki-laki ayah yang memiliki anak lak-laki. Sementara anak perempuan, akan dibeli oleh keluarga lain dan akan mengikuti keluarga suaminya.
Budaya patriarki pun terlihat dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam suatu pertemuan, para perempuan lah yang sibuk di dapur dan melayani kebutuhan makan laki-laki. Sementara laki-laki biasanya duduk di ruang depan sambil bercengkerama. Ketika makan pun, biasanya yang dipersilahkan makan terlebih dahulu adalah para laki-laki. Ketika mereka sudah mengambil makanan, baru perempuan boleh mengambil makanan. Itu pun mereka harus makan dengan cepat sebelum laki-laki selesai, untuk kemudian mengambil piring dan membersihkannya.
Itu hanya sebagian contoh dari budaya patriarki tanah Batak. Walaupun pada saat ini, masyarakat Batak yang tinggal di kota lebih bersifat terbuka dan demokratis, namun budaya patriarki tetap tidak bisa dilepaskan. Perlu diakui, kebudayaan ini terus dilestarikan dalam keluarga Batak, dan entah sadar ataupun tidak, perempuan yang sebenarnya teropresi oleh kebudayaan ini, memiliki setidaknya sedikit ‘hidup yang berguna’ ketika menuruti budaya ini. Akan sangat tidak sopan dan aneh jika perempuan makan terlebih dahulu dibanding para laki-laki dan duduk bersama laki-laki di ruang depan. Mereka akan lebih dihargai jika sudah menyelesaikan semua tugas rumah tangga mereka dan berkumpul dengan yang lain di ruang belakang. Dan, perempuan-perempuan Batak memang senang melakukan hal ini, entah kesenangan itu datang dari dalam diri mereka sendiri atau didikan keluarga mereka.
Jadi, jika perempuan senang berada di bawah bendera patriarki, haruskah patriarki itu dihapuskan??


benarkah perempuan senang di bawah patriarki atau mereka tidak sadar kala mereka ada di bawah patriarki dan sebenarnya tertindas.
BalasHapusdi jawa jg kaya gitu<
BalasHapusbahkan cewek itu disamakan sbg benda kepemilikan
pi gag smuanya seh
umum kali ky gitu di indon
kecuali di padang mungkin
huummm..
BalasHapuspatut dipertimbangkan..
budaya bangsa timur (asia) memang msh melekat bgt patriarkinya cm beberapa suku d indonesia aja yg matrilinieal...bgus artikelnya cm tampilannya msh kurang..di tambahi visualisasi gambar gadis batak bersama pria batak gt mungkin lbh menarik....-Aditorial-
BalasHapusapakah perempuan batak ditindas atau tidak, aku pikir itu tergantung dari kesadaran perempuan itu sendiri. Ketika dia melakukan semua tugas tadi hanya karena agar diterima di masyarakat, maka ia memang terepresi. Tapi ketika perempuan melakukan tugas-tugas tersebut dengan kesadaran. maka ia bisa memanfaatkan adat tersebut untuk membebaskan diri. Adanya adat tersebut pun, bila dilihat dari sisi lain, bisa dikatakan laki-laki membutuhkan perempuan. Maka meski melakukan pekerjaan rumah tangga, perempuan tetap bisa menunjukkan kedigdayaannya dengan tidak hanya menjadi pesuruh, tapi berinisiatif untuk melakukan tugas yang bisa membuat ia dihormati oleh laki-laki. Emansipasi kan tidak semata-mata masalah perempuan dan laki-laki harus melakukan pekerjaan yang sama.
BalasHapusJadi kayak gitu detail patriarki batak? aku pernah baca soal patriarki batak dari pelajaran ips kls 3 sma, tapi cuma dibahas silsilah marga ma status keturunan marga, aku gak tau kalau patriarki kayak gitu. Masih inget kan waktu kuliah mps, ada dosen yg cerita soal kasus cewek yg diperkosa (aku lupa daerahnya) tapi dari pihak yg bersalah cuma ngasih ganti rugi dengan (maaf) "babi".
BalasHapushuumm..
BalasHapuskalo oyi mungkin terlalu barbar yaa,,
yang harus dipahami bahwa dalam modernitas karang ini pun, bantak prempuan yang blum sepenuhnya sadar-kecuali didesak oleh keadaan- bahwa kedudukannya setara dengan laki-laki..
Menurut saya, sebagai salah satu masyarakat karo, keadaan seperti ini terjadi karena masih dipegang teguh nya adat istiadat dareah tersebut. Hal ini serta merta mengakibatkan kultur patriarki masih kuat melekat di peradaban masyarakat Batak. Perubahan yang revolusionaer pun dikhawatirkan akan membawa ketidaksiapan bagi masyarakat asli tanah karo. Saya sendiri, tidak sepakat bahwa wanita batak selalu berada di bawah bayang-bayang laki-laki. Proses modernisasi juga dibutuhkan bagi masyarakat asli untuk mengikis stigma bahwa wanita selalu menjadi "Pelayan".
BalasHapus