
Golput. Golongan putih yang sering didengungkan ketika ad pesta demokrasi yang dilaksanakan, baik itu tingkat nasional, tingkat procinsi, kotamadaya bahkan sampai ke desa-desa. Kenapa selalu ada golput? Padahal jika ditilik ke beberapa tahun yang lalu, istilah ini tidaklah terlalu populer, hanya saja meningkat ketika memasuki babak reformasi. Di manakah salahnya?Apakah karena kebanyakan partai politik sekarang tidak memiliki visi dan misi yang jelas? Ataukah kekecewaan rakyat yang terlalu mendalam dan tak terobati lagi? Atau justru karena kesadaran memilih rakyat yang sudah tinggi?
Berkaca dari pernyataan, tidak memilih adalah juga sebuah pilhan. Lalu, bagaimana selanjutnya? Apakah dengan bebuat begitu akan ada sebuah perubahan yang berarti? Bayangkan jika satu suara mewakili satu jiwa yang ingin berubah, maka bukankah kita memang tidak menginginkan adanya perubahan bagi bangsa ini?Walaupun Indonesia dikenal dengan negara demokrasi, tapi perilaku seperti ini bukanlah sebuah perilaku demokrasi yang baik.Faktanya, yang lebih banyak menggunakan hak golputnya adalah golongan masyarakat yang stratanya menengah ke atas, baik dari sisi ekonomi, penidikan maupun sosial.
Memang selama ini dikatakan bahwa memilih adalah sebuah hak, bukan kewajiban, Dnegan kata lain, kita bebas dan tidka terikat sangsi apapun jika kita tidak memilih. Beda dengan kewajiban, dimana kita dituntut untuk melakukan sesuatu, atau sangsi yang berlaku akan menjerat kita. Namun, pertanyaannya, apakah kesadaran harus diarahkan dan diapaksa sedemikian rupa sehingga memiliki satu pemahaman? Rasanya tidak juga.
Jika kita tetap berpegang bahwa memilih adalah hak, maka pembahasan ini cukup sampai disini. Namun, jika masih ada kesadaran pikir untuk mengubah tatanan menjadi ‘kewajiban’ memilih, maka rasanya akan ada pembahasan kontroversial lagi kedepannya. Wajib memilih. Siapkah kita??


Secara pribadi Saat kita memilih seseorang untuk menjadi seorang pemimpin maka kita memiliki harapan yang besar saat orang yg kita pilih adalah orang yang bisa membawa perubahan maju dan positif. Klo kebalikannya.... kita akan merasa menyesal telah memilih org tersebut... sekali terjadi masih bisa kita terima...tapi pada saat kondisi kekecewaan terus menerus dialami pemilih kemungkinan muncul kebosanan untuk memilih, budaya korupsi n kecurangan seringkali terjadi. Mungkin sampai budaya seorang pemimpin bijak n positif muncul barulah para golput dapat menimbang kembali untuk menggunakan suara mereka yang berharga demi sesuatu yang berharga pula (bukan sekedar pemimpin yang cuap2)
BalasHapussetuju mike..
BalasHapustapi pertanyaannya, kapankah hal itu terjadii??
golput awalnya muncul sebagai tandingan sebuah partai yang menamakan dirinya sebagai golongan untuk pegawai negri. pro kontra terhadap parpol tersebut karena hanya partai tersebut yang menamai dirinya 'golongan' dan bukan partai X. Lalu muncullah orang-orang tandinagn yang menamai mereka golput (alias golongan putih). Tetapi mereaka tidak beradiri dalam satu partai. Mereka kecewa dengan resim yang lama ada di Indonesi atidak berubah. apalagi kemudian banyak PNS yang mau tidakmau harus berada dalam partai itu. Namun setelah era reformaasi, istilah golputy menjadi populer bagi yangtidak memilih bahkan cenderung apatis. Yang lebih menghebohkan lagi, jumlah yang tidakmemilih selalu lebih besar dibandig suarayang menang. ada apa gerangan? beberapa alasan telah dikemukakan sepergti visi misi yang kurang jelas, dankurang populernya calon di mata masyarakat. Kalau di amerika, calon yang akan maju telah memulai aksinay 5 tahun sebelum pemilihanberlangsung. Jadi masyarakat kan memilih dengan sendirinya, danbukan dengan pemanis seperti di Indonesia.
BalasHapus