Rabu, 06 Januari 2010

Bicara tentang politik kampus

Politik. Mungkin ebagian besar kaum muda bangsa ini sangat antipati terhadap bahan disukusi yang satu ini. Tidak masuk akal sehat, tidak penting dan tidak mau berhubungan langsung dengannya. Mungkin ini sebagian besar alasan kenapa mahasiswa kita sekarang ini, jangankan melakukan perubahan horisontal terhadap bangsa, meningkatkan rasa rindu untuk melakukannya juga msih sulit.
Tidak dapat dipungkiri memang bahwa ada sebagian mahasiswa yang aktif di bidang politik, di kampus khususnya memang melakukan hal-hal yang sedikit anarkis di kampus. Tengok saja contoh kasus di sebuah kampus. Menjelang pemilihan Presiden BEM, semua ekstra yang memiliki kaki tangan di kampus tersebut tidak segan-segan turun tangan untuk memenangkan kandidatnya, bahkan sampai pengrudsakan fasilitas kampus. Bila kita bandingkan dengan era-era yang telah kita lewati, mulai dari kemerdekaan, orde lama, orde baru, reformasi dan demokrasi sekarnag ini, masih relevankah tujuan politik yang seperti itu? Bukankah itu hanya akan mencoreng citra politik yang bertujuan sebagai peningkatan pelayanan terhadap masyarakat luas? Namun yang nyata sekarang, tujuan politik hanyalah pencapaian puncak kekuasaan demi kepentingan pribadi,
Maka tak salah juga jika mahasiswa dan kaum muda yang memiliki idealisme tinggi tidak mau berpolitik di kampus. Walaupun, tanpa disadari setiap bagian dari sisi kehidupan manusia selalu menggunakan politik sebagai alat untuk mendapatkan keinginannya. Lihat saja, bagaimana mahasiswa-anak kost umumnya- berpolitik dengan mengatakan pada orang tuanya bahwa uang bulanannya sudah habis dan meminta untuk dikirimkan, padahal hanya untuk jajan semata. Atau, yang paling sering terjadi, istilah TA (titip absen) yang sering dilakukan ketika matakuliah nya membosankan dan lebih memilih untuk nge-mall dengan teman-temannya. Bukankah ini semua juga adalah bentuk politik halus yang dilakukan dalam hidup sehari-hari?
Jadi, bagaimana mungkin kita tidak berpolitik? Tinggal dipilih saja, politik jenis apakah yang ingin kita ikuti. Partai politik kah, ekstrakurikuler kah, atau hanya politik halus kehidupan.
Jadi, mahasiswa. Berpolitikkah anda?

5 komentar:

  1. sebenernya sih..kita cuma ga mau ngaku aja kalo kita yuhh berpolitik.. soalnya, kayanya kata 'politik' itu lebih kejam daripada pembunuhan..
    padahall..??

    BalasHapus
  2. veny keren, boong deh!!! bantuin gue.. keren banget dah,

    BalasHapus
  3. saya sendiri tidak melirik politik sebagai pilihan saat kuliah...Politik terlalu mudah disalah artikan, bahkan tanpa disadari kita bisa terjerumus bila tidak benar-benar bijak. Bagi kaum muda, politik merupakan ajang unjuk nasionalisme dan idealisme, tapi setelah mereka dewasa jadi politikus, kebanyakan bisa berujung Uang melulu dan lupa semangat muda nasionalisme+idealisme. HMMm... tapi saya akan menerima dan mau mencoba bila kesempatan berpolitik itu datang di waktu sy bekerja nanti, sapa tau bisa mengubah alur politik menjadi lebih bijak hehehehehe, amin.

    BalasHapus
  4. politik hanya istilah untuk membenarkan apa yang dilakukan, terutama dengan 'politik halus'..bukankah hidup adalah pilihan? :)

    BalasHapus
  5. Sebagai bagian dari peradaban yang dibesarkan di POLITIK,, saya beranggapan bahwa bagi teman-teman yang mengaku tidak suka politik adalah omong kosong.. Hampir dalam setiap sendi kehidupan kita,, kita berpolitik.. Jangan menganggap politik adalah sesuatu yang kotor atau selalu identik dengan kelicikan..Itu hanya salah satu cara berpolitik,, dan tidak mempengaruhi definisi pergerakan politik itu sendiri.. Politik itu adalah STRATEGI. Strategi yang dipilih dan dijalani oleh setiap individu di muka bumi ini untuk memenuhi ambisinya.. Jalan yang dipilih itulah yang pada akhirnya menentukan tingkat politik seseorang.. Apakah tetap mampu mempertahankan idealismenya atau tergerus oleh perputaran trik dan manuver politik itu sendiri..

    Joe..

    BalasHapus

 
Wordpress Theme by wpthemescreator .
Converted To Blogger Template by Anshul .