BAYANGAN SEMU KOTAK AJAIB
Media. Satu kata yang dapat ditelisik lebih dalam dari berbagai sisi. Bahkan dari sisi yang dianggap tabu untuk dibahas dalam ranah publik. Siapa bilang media objektif? Siapa bilang media tidak memihak? Tidak ada. Kecuali para pemilik modal. Siapa memberi lebih banyak, mendapat lebih banyak.
Ya. Mungkin itulah hal yang belakangan ini menjadi bahasan yang menohok publik. Media yang selama ini diirepresentasikan sebagai wakil publik dalam mengetahui berbagai informasi penting dan berguna bagi pihak yang diwakilkan ini ternyata malah berkutat sendiri dengan kepentingan intern nya.Sudah banyak bukti yang menunjukkan bahwa media ternyata tidak bekerja untuk publik yang diwakilkan, melainkan untuk para pemegang modal yang memberi perut mereka makan, yang membuat dapur mereka tetap mengepul. Sementara publik? Yah, bisa lah itu di atur. Mungkin itulah yang menjadi mindstream mereka sekarang. Siapa yang memberi lebih banyak, menerima lebih banyak.
Contoh nyata salah satu media yang banyak disorot karena ketidakberpihakannya (pada publik) ini adalah televisi. Ya . Televisi sebagai kotak ajaib memang menyodorkan semua hal yang menyenangkan untuk dinikmati. Apapun yang kita inginkan, bisa ditampilkan oleh kotak ajaib ini, bahkan hal yang kita tidak inginkan untuk dinikmati pun ada di sini. Keberadaannya pun bukan lagi barang langka, melainkan barang yang biasa seperti baju atau sepatu, kuantitasnya banyak dan bisa diganti-ganti sesuka hati.
Namun, seberapa kita sadar bahwa tayangan kotak ajaib ini memberikan pengaruh yang lebih banyak negatifnya terhadap masyarakat? Lihat saja tragedi tayangan smake down dulu, dimana efek psikologis tayangan itu menyebabkan anak-anak memilih jalan yang lebih keren untuk bisa berkelahi dengan temannya, bahkan tidak jarang menimbulkan korban jiwa. Belum lagi, tayangan yang irasional, seperti yang ditayangkan salah satu televisi swasta. Bagaimana mungkin manusia yang sudah mati dapat berubah menjadi naga dan memakan musuhnya? Atau juga bagaimana mungkin seorang pembantu rumah tangga dapat begitu tabahnya disiksa terus menerus sepanjang hidupnya tanpa ada perlawanan, dan hanya menangis? Jika pun ada, acungan dua jempol karena ketabahannya menjalani hidup yang apa adanya itu.
Begitu pun dengan tayangan berita. Bukan zamannya lagi menilai berita sebagai sesuatu yang objektif. Proses yang dilakukan pun tidak lagi menyiarkan berita tapi membuat berita. Mulai dari lapangan tempat berita diambil, lalu di berikan pada editor dan terakhir digodok di ruang redaksi, tempat semua kepentingan bersatu dan menghasilkan rekonstruksi berita yang baru. Jika pun cara yang ditempuh tidaklah demikian, berita yang kita lihat di televisi kemungkinan besar bukanlah peristiwa yang sebenarnya terjadi di lapangan, karena proses produksinya yang sangat subyektif akan menghasilkan berita yang juga sangat subyektif.
Lalu dimana letak fungsi edukasi dan informatif yangg seharusnya dijunjung media? Bukan hanya sekedar edukasi dan informatif. Tapi pendidikan yang mendidik moral dan akal bangsa dengan memberikan informasi berupa teks yang berisi data yang benar, akurat dan terpercaya serta komprehensif. Bagaimanakah peran kepemilikan modal dalam media televisi Indonesia? Berjalankah fungsi edukasi dan informasi televisi terhadap publiknya?
Dimensi Televisi
Di semua sisi kehidupan dan ekonomi masyarakat, pasti dibutuhkan aliran modal untuk membuat sebuah bisnis atau kegiatan dapat berjalan. Tidak ada yang salah dengan kepemilikan modal ini, karena hal ini menjadi hal yang mutlak diperlukan dan memberikan stimulan agar suatu kegiatan dapat berjalan. Dalam media, cukup banyak media yang memanfaatkan atau dimanfaatkan oleh pemegang modal yang berbentuk saham ini. Ambil salah satu contoh yang nyata-nyata dapat dilihat. MetroTV contohnya. MetroTV yang dimiliki oleh Surya Paloh ini memang sangat patuh pada apa kata tuannya. Bukan rahasia lagi, bahwa Surya Paloh memanfaatkan MetroTV sebagai salah satu ajangnya mempromosikan diri sebagai salah satu calon anggota legislatif lalu.
Di setiap jadwal iklan, pasti terdapat wajahnya dengan berbagai slogan dan atribut partainya. Bukan hanya itu saja. Bahkan intervensi kepemilikan modalnya berimbas sampai ke pemberitaan medianya. Sangat jelas sekali bahwa selama masa kampanye berlangsung, MetroTV hanya menampilkan sosok Surya Paloh dan Partai Golkar dalam image baiknya. Sangat jarang MetroTV mau menampilkan sosok lain yang bukan dari Partai Golkar atau sekutunya. Sekalipun ada, maka berita yang akan ditampilkan adalah semua kekurangannya, seperti melanggar ketentuan kampanye dan sebagainya. Bukannya Partai Golkar tidak ada. Ada, namun hanya dalam kapasitas kecil, dan itu pun lebih sering menyalahkan pihak lain atau malah mengalihkan pemberitaan.
Selain itu, jika kita amati, sering sekali tokoh Partai Golkar diundang untuk menjadi tamu atau narasumber di acara-acara MetroTV, namun tidak pernah ada tokoh partai lain yang tampil disitu. Jangan harap pernah melihat SBY tampil dengan santainya dalam acata MentroTV.
Kepemilikan modal yang dimiliki oleh Surya Paloh membuatnya memiliki free ticket untuk masuk ke daerah yang seharusnya menjadi hak publik untuk mengetahui hal yang benar. MetroTV mampu membangun image nya menjadi televisi berita yang akurat dan dapat dipercaya (hal ini terbukti dengan banyaknya program berita yang disiarkan MetroTV). Namun, apa jadinya jika pemberitaannya menjadi tidak berimbang? Masyarakat yang tidak mengetahui hal ini, akan sering saja menonton MetroTV dan sepenuhnya percaya akan semua yang disodorkan oleh televisi. Dalam hal ini, tayangan yang ditayangkan adalah realitas semu. Semu dalam artian hal yang dalam kenyataan sebenarnya tidak ada, diadakan bahkan dibelokkan sehingga dapat menimbulkan asumsi tertentu di masyarakat.
Beda MetroTV beda lagi dengan TVOne. Channel yang mengangkat grand theme sebagai TV pemilu tidak ditunggangi oleh salah satu pemilik modal saja. TVOne yang dimiliki oleh Karni Ilyas mampu menunjukkan kredibilitasnya sebagai TV pemilu yang memang adil, berimbang dan tidak memihak. Pemberitaan yang dilakukan oleh TVOne mencangkup semua partai, semua tokoh dan pemberitaannya berimbang dan terbuka. Jika salah, maka akan dikatakan salah, jika benar akan dikatakan benar.
Acara yang ditayangkan oleh TVOne, baik dari berita, maupun dialog seperti debat presiden dan apa kabar Indonesia mampu menyerap aspirasi masyarakat yang ingin mengetahui lebih dalam mengenai calon presiden yang akan dipilihnya. Jika di TVOne, kita dapat berharap siapa saja dapat muncul dan memberikan komentarnya dalam sebuah acara tanpa tendensi dari pihak manapun.
Walaupun begitu, memang tidak dapat dipungkiri bahwa pada dasarnya media selalu memiliki celah untuk dimasuki unsur subyektivitas, yang menyebabkan berita menjadi tidak berimbang. Memang tidak mungkin untuk menghilangkan subyektivitas, karena yang melakukan semua prosesnya juga adalah seorang subjek. Yang dapat dilakukan adalah mengurangi kadar subyektivitas tersebut. Berita yang objektif adalah berita yang unsur subyektivitasnya paling kecil atau rendah. Tapi disamping itu juga, self-sensorship dari pemirs televisi juga dibutuhkan untuk membantu menyaring informasi yang diterima dari media.
Tidak akan ada yang berubah jika masyarakat sendiri tidak aktif untuk membantu media membenahi diri. Perlu sinergi dari berbagai pihak seperti masyarakat, lembaga pengawas media dan pemerintah untuk meningkatkan kualitas moral dan edukasi dari media kita.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


hmm, sedikit banyak saya setuju dengan tulisan di atas..
BalasHapusmemang, tidak bisa dipungkiri bahwa dalam tubuh perusahaan media -dalam hal ini televisi, pasti terdapat intervensi dari pihak pemberi modal.
sebenarnya hal ini tidak perlu terlalu dirisaukan, tentunya selama intervensi itu tidak terus melebar pada hal-hal yang berada di luar garis kode etik.
misalnya dalam tulisan di atas dituliskan contoh tentang dominasi Surya Paloh dalam tayangan di Metro Tv. Saya rasa jika hal itu tidak banyak mengganggu kepentingan publik dan melanggar kode etik.
misalnya saja jika pemberitaannya mengandung unsur menjatuhkan partai lain, dan sebagainya. Hal itu yang harus ditindak.
Tetapi, kita harus tetap aware dengan hal ini mengingat kongkrit pemberitaan di media TV sekarang ini memang banyak yang tidak berimbang..
Saya rasa yang bisa kita lakukan sebagai penonton TV adalah membatasi diri, menjadikan diri kita sendiri dalam fungsi 'media watch' agar dapat memilah mana yang benar-benar fakta dan tidak tersulut oleh pemberitaan yang berlebihan dari media-media tertentu.
-begitu saudari veny, hehe. Comment di blogku juga yaa, tengkyuu ^^
ikaikoo.blogspot.com
ingat dengan salah satu mata kuliah di semester 4, bahwa bentuk pers ada 3 macam: yang menjujung tinggi idealisme tanpa pengaruh modal, yang terpengaruh modal, dan yang satunya lagiadalah pers yang di tengah-tengah...kalo g salah gitu..lupa). Nah, dari situ dapat diketahui jenis pers mana televis itu
BalasHapus