Rabu, 15 April 2009

Jurnalist : to comfort the afflicted and afflict the comfort

Mungkin itulah yang dipikirkan Finley Dunne. Bahwa tugas seorang jurnalis adalah ‘membahagiakan yang menderita dan membuat menderita yang berbahagia.’ Idealnya, seorang jurnalis seharusnya memberikan pencerahan terhadap orang-orang yang dilanda ’penderitaan dalam hidup’ dan ‘mengkritik orang-orang yang berada dalam area nyamannya’ seperti pejabat pemerintahan dan selebritis serta public figure lainnya.

Seharusnya, Dunne melihta praktek yang terjadi di Indonesia. Jika ia melihatnya, besar kemungkinan ia hanya akan tertawa miris. Ya. Jurnalis di Indonesia yang selama ini diagung-agungkan sebagai indikator keberhasilan suatu negara, di Indonesia ternyatalah ternyata….menipu. Jurnalisme di Indonesia ternyata berlaku ‘to afflict the afflicted and comfort the comfort.’ Untuk membuat menderita orang yang sudah menderita dan menyenangkan pihak-pihak yang sudah senang.

Ambil contoh. Tragedi Situ Gintung yang baru saja melanda saudara kita di daerah Tangerang, Banten. Tragedi yang menelan hampir 100 korban jiwa ini masih menyisakan duka dan trauma yang mendalam bagi para korbannya yang selamat. Mereka – selain harus berjuang mempertahankan kehidupan yang ‘beruntung’ diberikan sekali lagi – sekaligus juga harus berjuang mencari mayat-mayat saudara-saudara mereka yang masih ‘berkeliaran’ entah di mana. Tidak cukup segitu. Bayangan untuk menata kembali hari depan mereka seolah musnah, hilang tersapu air ‘tsunami mini’ itu.

Bad news is a good news berlaku dalam kasus ini. Berita buruk yang menimpa saudara-saudara kita itu menjadi berita baik untuk sekelompok orang yang berkepentingan.

Tidak lama setelah tragedi itu, berita mengenai Tragedi situ Gintung naik ke media massa dan mulai terjadi ‘booming’ tersendiri. Berita itu – yang dipublikasikan besar-besaran – menajdi headline dalam beberapa hari di hampir semua surat kabar lokal dan nasional. Good news nya, adalah tak lama melalui berita tersebut, pihak-pihak yang ‘berkepentingan’ langsung ‘turun tangan’.

Pejabat pemerintah langsung meninjau loaksi penampungan korban, berkata ini dan itu, salam sana senyum sini, janji-janji dan....pulang. Tak lama, datanglah pejabat lain, melakukan hal yang hampir sama, bedanya hanya di jumlah dan cara sumbangan diberikan. Lucunya lagi, datanglah segerombolan artis yang ‘berkedok’ membawa bantuan, tatpi ujung-ujungnya mencari eksistensi diri. Mereka, dengan vulgarnya, mempertontonkan kebodohan mereka dengan kata-kata seperti, ‘wah, aku baru tahu ternyata di sini ada sebuah situ’ atau ‘ orang-orang disini ternyata sangat membutuhkan bantuan.’ Lalu, setelah itu, berfoto-foto dan...pulang. Kelompok yang bahkan tidak ‘bisa’ membaca surat kabar...Tidak penting...

Belum lagi, partai-partai politik yang memberikan bantuan. Hal itu dijadikan kedok bagi mereka untuk berkampanye. Bayangkan, betapa kompaknya mereka membantu saudara yang tertimpa bencana, namun begitu mandirinya mereka dalam memperkaya diri sendiri dan kelompoknya.

Ketika media mulai merubah headline nya, dari objek tragedi Situ Gintung menjadi subjek foto dan pendapat orang-orang penting yang datang berkunjung, di situlah media mulai menjalankan fungsi menyamankan yang sudah nyaman dan membuat menderita orang yang sudah menderita. Sungguh suatu ironi! Media massa dengan buta dan tulinya mengangkat semua yang hanya terlihat di permukaan. Semakin menjual nilai sebuah berita, semakin besar oplah, semakin besar gaji, cukup. Lalu, dimana letak hati nurani??

Bayangkan saja, jika anda berada di pihak korban selamat Situ Gintung. Bagaikan liha menganga ditabur garam. Sudah terkena bencana dan dampak-dampaknya, masih harus menanggung ekspos media yang selalu menyorot mereka dari sisi senagai orang yang lemah yang harus dibantu. Hey! Seberapapun menderitanya seseorang, ia masih cukup waras untuk tahu dimana harus menempatkan harga dirinya.

Namun, peran sentral media yang selalu mengekspos mereka justru menambah penderitaan mereka. Bayangkan saja, bagaimana jika anda, suatu malam sedang tidur dengan lelapnya, tiba-tiba terbangun di antara genangan air dari situ milik pemerintah dan paginya menemukan foto anda yang sedang kebingungan mencari mayat istri, anak, ibu atau saudara anda di koran nasional. Apakah bangga? Masuk koran dengan cara seperti itu dan dengan headline yang seperti itu? Saya rasa tidak.

Seharusnya media mengambil sikap. Dalam teori, media seharusnya melayani masyarakat dan hanya melayani pemerintah dalam hal penyediaan data yang akurat. Janganlah menjadi ‘anjing penjaga’ yang menjaga kemewahan pejabat pemerintah dan menggonggong pada ‘pemulung’ yang mencoba mencari sesuatu pada tempat sampah tuannya. Mulailah untuk membuat masyarakat kecil merasa bahwa tetap ada harapan untuk kehidupan yang lebih baik di masa mendatang, cukup dengan hanya memberitakan berita-berita baik tanpa mengesampingkan aspek kebenaran. Dan sadarkan orang-orang yang berada di zona nyaman mereka, bahwa mereka hanya merupakan minoritas dominan yang berada di sekeliling orang-orang menderita.

Tampaknya, idealisme Finley Dunne masih perlu banyak waktu untuk memasyarakat di kalangan jurnalis. Memasyarakatkan idealisme itu pada jurnalis dan semoga bisa menjadi stepping point bagi jurnalis yang memihak masyarakat.

_vEny FLoRencia aNgeLa SiNuRaya_

2 komentar:

  1. jurnalis : pekerjaan yang menantang..kadang ada pertentangan antara ideologi dan kewajiban...
    semangat veny,,,

    BalasHapus

 
Wordpress Theme by wpthemescreator .
Converted To Blogger Template by Anshul .