Rabu, 15 April 2009

jika aku menjadi,,

TUKANG SAMPAH SEHARI

Aku mau cerita sedikit tentang pengalaman baruku menjalani posisi orang lain..

Suatu hari, aku dan temen2ku anak beasiswa wisma, dapet tugas buat pergi ke Susteran Gereja Jago, Ambarawa. Tugas dari MoEd, panggilan akrab Romo Edi, Romo Mahasiswa kami di Semarang, simpel saja, bakti sosial. Akhirnya, dengan terbata-bata, kami pun pergi ke Ambarawa sekitar jam stengah tujuh pagi, naik bis bareng2.

Sampai sana, ternyata kita beneran disuruh berbakti untuk sosial. Akhirnya lah, setelah dibagi tugas sama Suster Louisa, kami pun dengan tulang besi dan muka baja nya mulai beraksi! Ada yang kebagian motongin rumput taman, nyapu-nyapu, ngelapin jendela, ngerokin semen yang masih pada belom ngelotok di depan pintu Susteran. Dan,, entah sial atau beruntung,,(aku lebih suka menyebutnya beruntung), aku bersama Maria, salah seorang temanku, kebagian tugas nyapuin halaman teras merangkap tempat puteran mobil dan tempat parkir yang penuh dengan berbagai macam sampah. Mulai dari sampah daun, sampah makanan, dan kotoran2 yang tiada tara terlukiskan lewat kata2. Terlebih panasnya menyengat, kami pun membagi tugas, menyapu halaman nan luas itu dari ujung yang paling jauh dan kemudian sampahnya dikumpulkan di tengah.

Selagi kami bekerja, angin semilir datang dan membawa pergi hasil jarahan kami, sehingga kami, mau ga mau menata lagi kawanan sampah kami..Jam itu, ternyata jemaat Gereja misa ketiga baru keluar,, dan disinilah aku dapet pengalaman.

Ketika seorang Ibu lewat dan berkata,,sekali-kali ya mba,olahraga..terbersit dalam benakku, kenapa si Ibu itu sampe ngomong begitu?? Apakah dia jarang melihat seorang anak gadis kota bekerja sedemikian berkeringat?? Atau dia menyindirku karena tampangku menunjukkan tampang seorang ratu yang tidak pernah memegang sapu lidi yang besar itu???

Aku mulai berpikir,,kalau aja aku beneran tukang sapu di susteran itu, mungkin aku ga mikirin perkataan itu, karena memang itu tugasku.

Kawan, pernah ga sih kalian berpikir kalo kita seharian jadi tukang sapu daun2an di jalan, yang ga pernah diliat orang, padahal dia memegang peranan penting dalam menjaga kebersihan lingkungan tempat itu. Pernah ga kita berpikir, ketika kita menghina pekerjaannnya, itu tidak mengurangi penderitaannya, malahan membuatnya tambah down,,mungkin tukang sapu atau tukang-tukang apapun yang terkadang tidak terlihat di depan kita, merasa sakit hati, namun tidak dapat berbuat apa2, kerena memang begitulah mereka.

Mungkin pemahaman ku masih kurang mendalam, tapi yang pasti, aku dapat satu pengalaman baru,,ketika seseorang berurusan dengan sampah, bukan berarti dia juga sampah yang harus dihindari,,

Sebaliknya, kita lah yang seharusnya menjadi sampah jika kita tidak menghargai kerja mereka yang menurut orang mudah untuk dilakukan namun tidak pernah ada yang sukarela mau melaksanakannya..

Namun,,seberapa pun kita,,tetap ada proses daur ulang yang akan memurnikan kita untuk bisa berguna bagi sesama,,

Kawan,,tak pernah ada titik yang terlalu tepat untuk berubah. Mulailah dari titik dimana kamu berdiri sekarang dengan kemampuan yang kamu punya,,

SEMANGAT!!!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Wordpress Theme by wpthemescreator .
Converted To Blogger Template by Anshul .