Rabu, 15 April 2009

Hanya Ingin Kau Bangga

Caris masuk ke kamar dan mengambil tasnya. Ia memasukkan hanya satu paket pakaian, seluruh tabungan, uang dan barang berharganya, tak ketinggalan juga foto Mama. Nafasnya memburu marah dan kekesalannya memuncak. Ia mengambil semua lembaran piagam penghargaannya dan pergi menemui Papa yang masih berteriak-teriak mengatur hidup dan masa depannya.

“ Cukup!” bentak Caris sambil melemparkan piagam-piagamnya. Papa tersentak diam. “ Aku bukan Carlo yang Papa bisa atur kehidupannya! Apa sih yang Papa mau? Aku udah berusaha untuk jadi sempurna kaya Papa, piagam-piagam itu buktinya! Tapi apa? Papa ga pernah pernah ngomong sama aku, bahkan memandang aku pun ga! Semua kakak, selalu kakak! Lima tahun Pa, sejak Mama meninggal. Aku capek, Papa terlalu sempurna untuk menjadi seorang Ayah. Aku mau kehidupanku kembali..” ujar Caris mengakhiri kekesalannya yang bertumpuk.

“ Caris! Kembali!” teriak Papa yang hanya dijawab dengan suara langkah kaki Caris yang menjauh.

Caris ga tahan lagi! Ga ada orang yang kuat selalu dipaksa untuk menjadi yang terbaik! Pada awalnya, Caris merasa bisa melakukannya dengan sempurna, tapi sejak Mama meninggal dan karena sikap Papa yang selalu membandingkan dia dengan Carlo, kakaknya, Caris ga kuat lagi.

Itulah Papa! Seorang Profesor dan Guru Besar Kriminologi, yang terlalu banyak menuntutnya. Carlo mungkin sanggup, tapi Caris ga! Instingnya malah menuntunnya ke arah sosial, untuk memberikan perhatian pada anak-anak pinggir jalan yang terlantar. Hal yang sangat sulit untuk diterima Papa. Maka, tak sulit bagi Caris untuk mendapatkan tempat tinggal sementara. Sebuah panti sosial menerimanya dengan terbuka sebagai seorang sukarelawan. Disini ia mulai menemukan arti hidupnya, bahwa perasaan dibutuhkan oleh orang lain adalah berharga.

Se-berharga perasaan bangga seorang ayah terhadap putrinya. Perasaan yang tidak pernah didapatkan oleh Caris.

………………..

“ Pulang ya?” bujuk Carlo. Siang ini, tepat tiga hari setelah Caris meninggalkan rumah, entah bagaimana Carlo berhasil menemukan Caris di pinggir jalan, sedang bercengkerama dengan Siti, salah satu anak panti. Carlo langsung menariknya dan membujuk Caris untuk pulang.

“ Papa yang nyuruh Kakak?” tanya Caris dingin. Untuk saat ini, dia lagi ga mau berurusan dengan Papa.

Carlo bersender dan menarik dasinya. Eksekutif muda yang sempurna. Ia menghela nafas. “ Kenapa lagi sih ‘De? Ga biasanya elo begini.”

“ Gw capek, Kak. Papa ga pernah puas sama apa yang gw bikin. Gw capek-capek belajar buat jadi juara, terbaik deh. Tapi yang ada, makin gw baik, makin Papa nuntut. Gw cuma mau Papa bangga dengan apa yang gw bikin. Bahkan, hal sekecil itu Papa ga bisa. Dia ga bisa mentolerir hal kecil yang gw bikin. ”

“ Kaya tinggal di pinggir jalan dan berinteraksi dengan anak jalanan?”

Caris tersenyum miris. “ Ternyata elo bener-bener ngewarisin bakat Papa. Ya. Tinggal di pinggir jalan dan berinteraksi dengan anak jalanan. Kalo hal kecil kaya gitu bisa bikin gw ngerasa berharga, akan gw lakukan. Gw ga butuh hal besar hanya untuk bikin Papa bangga. Gw ga mau pulang.” Caris berdiri dan bersiap pergi.

“ Papa sakit.” Tiba-tiba Carlo menahannya dengan sebuah statement. “ Dia minta elo pulang.”

Caris berbalik. “ Orang se-sempurna Papa ga bakal bisa sakit. He is too good to be sick. “ Setelah itu, Caris langsung pergi.

Bukannya Caris ga punya hati. Dia sayang Papa, secara Papa tinggal satu-satunya orang tua yang dia punya. Tapi kenyataan bahwa Papa selalu mengatur hidupnya dan kemungkinan Papa bakal merebutnya dari kebahagiaan ‘kecil’ yang sekarang dia punya meneguhkan hatinya. Papa masih punya Carlo, tapi anak-anak itu ga punya siapapun yang bisa mereka ajak berbagi.

………………..

“ Kak Caris, liat deh!” Dina, seorang anak jalanan yang mencari uang dengan menjadi loper koran mendekati Caris yang lagi mengepang rambut Siti yang berbau matahari. “ Aku dapet berapa hari ini? Lima ribu. Hebat kan, aku kaya!” Dina tertawa bersemangat.

Caris tersenyum dan mengambil tujuh ribuan dari tangan Dina. “ Dina,” Caris memangku Dina. “ Coba itung deh, ini mah tujuh ribu, bukan lima ribu kan? Kan kemaren udah diajarin..” Caris mencubit pipi Dina yang berbedak debu jalanan.

“ Ehehe, aku lupa! Tujuh ribu ya? Berarti aku lebih kaya donk sekarang?” tanya Dina lagi. Caris mengangguk. Dina langsung melompat. “ Bunda! Aku kaya sekarang!” teriak Dina pada seorang Ibu yang berusia setengah baya yang mendekati mereka. Ibu Ria, penanggung-jawab panti.

“ Hebat dong!” sambut Ibu Ria. “ Sekarang kamu mandi ya, udah gitu tidur siang. Nanti sore kita belajar lagi, ya?” Ibu Ria mengelus kepala Dina yang mengangguk patuh sambil tersenyum. Lalu, Ibu Ria mendekari Caris. “ Lagi ngapain, Car?” tanyanya lembut.

“ Ini, ngepang rambut Siti. Kenapa, Bu? Tumben jam segini keluar? Biasanya lagi sibuk nyiapin cemilan buat anak-anak.”

“ Iih, udah hapal aja! “ cubit Ibu Ria. Caris tertawa lepas. “ Car, kamu udah hampir sebulan lho di sini. Ga di cariin sama orang rumah?”

“ Kakak udah tau kok kalo aku ada di sini. Kenapa? Ibu ga butuh aku lagi?”

“ Ga, bukan begitu. Ibu, dan anak-anak di sini sangat membutuhkan kamu.” tepis Ibu Ria. “ Cuma, kamu kan dari keluarga yang lengkap, apa kamu ga kangen sama mereka? Hm?”

Caris terhenti dari kegiatannya. Ia menyenderkan kepala di bahu Ibu Ria, yang langsung mengusap rambutnya, persis seperti Mama dulu. “ Kangen sih. Tapi aku juga ga yakin kalo orang rumah kangen sama aku.”

Sesaat mereka terdiam dalam hening. Ibu Ria sudah tau semua masalah Caris, makanya dia mau ngasih Crais tempat tinggal. “ Ya udah, kalo kamu emang betah di sini, ya ga pa-pa, Ibu malah seneng ada yang bantuin. Udah, sekarang kamu siapin Siti ya, nanti sore ada yang mau ngadopsi dia. Ibu mau masak lagi deh..” Ibu Ria mencium kening Caris dan pergi ke arah dapur.

Ada yang mau ngadopsi Siti? pikir Caris. Bukannya Caris ga seneng, dia seneng karena itu berarti masa depan Siti lebih terjamin. Tapi, untuk mereka yang tinggal di panti, adopsi belom tentu hal yang menyenangkan. Kenyataan bahwa mereka akan berpisah dengan teman-teman mereka dan kebiasaan jalanan mereka yang lama akan membayangi mereka. Tapi, biar gimana juga, semua anak panti berhak mendapatkan ini. Maka, Caris menemui Siti yang lagi asyik main congklak dengan temannya, dan mempersiapkannya.

………………..

Sekitar pukul lima Siti sudah siap. Dia sudah bersih, rapi dan wangi. Semua barangnya juga sudah dimasukkan ke tas. Tapi, Siti ga mau. Dia ga mau diadopsi. Dia mau tetap di panti. Apalagi, Dina, adiknya dari tadi menggelayut terus, meraung-raung ga mau dilepas.

Caris kebingungan. Ini gimana caranya biar Dina bisa tenang, sekaligus Siti mau diadopsi? Caris menggendong Dina yang menangis sesenggukan. “ Dina, udah ya. Nanti Kak Siti juga bakalan balik kok, jangan nangis lagi, ya?” hibur Caris, walau dia tau dia hanya mengucapkan kebohongan, “ Kakak kan udah bilang, kalo kita sayang sama orang, kita harus bisa ngalah biar orang itu bahagia, iya kan? Udah dong, jangan nangis.”

“ Itu namanya bukan sayang, Kakak! Itu namanya bego!” teriak Dina. “ Kalo kita sayang sama orang, kita harus pertahanin biar orang itu ga pergi! Bunda Ria bilang begitu! Pokoknya Kak Siti ga boleh pergi!”

Caris terdiam. Kepolosan ucapan Dina merefleksikan dirinya. Tapi, dia kekeuh. Tugasnya, mempersiapkan Siti untuk diadopsi, walopun itu berarti memisahkan mereka. Caris menggendong Dina yang masih memberontak dan menggandeng Siti yang hanya ikut sambil menangis. Caris sudah pernah pergi dari tempat yang dia anggap rumah, jadi dia tau pasti rasa sakitnya.

Di halaman. sebuah Opel Blazzer hitam sudah bertengger. Caris menahan Dina sementara Ibu Ria dan anak-anak yang lain mengantar Siti. Seorang lelaki turun dari mobil dan Dina hampir aja jatoh kalo dia ga nge-jambak rambut Caris buat pegangan.

“ Kok aku dilepas sih?!” repet Dina.

“ Kakak???” bisik Caris bingung. Carlo turun dari mobil dengan elegannya dan menghampiri Ibu Ria, dan mengambil alih tangan Siti. Caris berjalan pelan, masih ngambang, ga percaya bisa jadi begini. “ Ngapain kakak disini?”

“ Mengadopsi adik.” jawab Carlo singkat. “ Terima kasih Ibu Ria. “ lanjutnya.

“ Kakak ga bisa begini! Kalo kakak mau bawa Siti, bawa juga Dina! Mereka bersodara!” teriak Caris kesel.

“ Aku turun, aku turun..” rengek Dina. Caris menurunkan Dina, sementara Carlo membuka pintu mobil. Untunglah Dina udah turun, kalo ga Dina udah pasti jatoh karena seluruh otot dan tubuh Caris lemas seketika, ketika Carlo mendorong keluar sebuah kursi roda, dengan Papa di atasnya!

“ Pa-papa??” lirih Caris. Ia menatap kakaknya, mencari jawaban.

“ Stroke. I’ve told you before.” jawab Carlo.

Caris berjalan pelan, seakan udah ga punya otot kaki lagi. Papa hanya terduduk di kursi roda, menatapnya. Tangan kirinya seperti terpaku, tapi tangan kanannya terjulur ke arah Caris, seakan ingin memeluknya. Caris udah ga sanggup jalan, ia berlutut di pinggir kursi roda Papa. Jarak yang cukup untuk bisa mendengar dengan jelas ucapan Papa, walau tertatih.

“ Caris, anak Papa. Maafin Papa ya sayang, Papa salah. Kamu bisa berguna untuk orang lain, itulah yang terpenting dalam hidup. Papa bangga sama kamu, anak Papa..”

Setetes air mata bergulir di pipi Caris. Inilah yang diimpikannya dari dulu. Dan Papa telah memenuhi impiannya. Carlo membantu Caris berdiri.

“ Dina juga ikut. Kita pulang ya?” Carlo megucapkan tawaran yang sama untuk kedua kalinya.

Dan, Caris sadar bahwa tindakannya untuk mengangguk adalah tepat. Betapa bahagianya dia, ketika Dina dan Siti berebutan masuk mobil dengan gembira, dan setelah berterima kasih dan pamit pada Ibu Ria dan anak-anak panti, pelukan Papa menyambutnya.

Kembali pulang ke rumah.

_ THE END

Jurnalist : to comfort the afflicted and afflict the comfort

Mungkin itulah yang dipikirkan Finley Dunne. Bahwa tugas seorang jurnalis adalah ‘membahagiakan yang menderita dan membuat menderita yang berbahagia.’ Idealnya, seorang jurnalis seharusnya memberikan pencerahan terhadap orang-orang yang dilanda ’penderitaan dalam hidup’ dan ‘mengkritik orang-orang yang berada dalam area nyamannya’ seperti pejabat pemerintahan dan selebritis serta public figure lainnya.

Seharusnya, Dunne melihta praktek yang terjadi di Indonesia. Jika ia melihatnya, besar kemungkinan ia hanya akan tertawa miris. Ya. Jurnalis di Indonesia yang selama ini diagung-agungkan sebagai indikator keberhasilan suatu negara, di Indonesia ternyatalah ternyata….menipu. Jurnalisme di Indonesia ternyata berlaku ‘to afflict the afflicted and comfort the comfort.’ Untuk membuat menderita orang yang sudah menderita dan menyenangkan pihak-pihak yang sudah senang.

Ambil contoh. Tragedi Situ Gintung yang baru saja melanda saudara kita di daerah Tangerang, Banten. Tragedi yang menelan hampir 100 korban jiwa ini masih menyisakan duka dan trauma yang mendalam bagi para korbannya yang selamat. Mereka – selain harus berjuang mempertahankan kehidupan yang ‘beruntung’ diberikan sekali lagi – sekaligus juga harus berjuang mencari mayat-mayat saudara-saudara mereka yang masih ‘berkeliaran’ entah di mana. Tidak cukup segitu. Bayangan untuk menata kembali hari depan mereka seolah musnah, hilang tersapu air ‘tsunami mini’ itu.

Bad news is a good news berlaku dalam kasus ini. Berita buruk yang menimpa saudara-saudara kita itu menjadi berita baik untuk sekelompok orang yang berkepentingan.

Tidak lama setelah tragedi itu, berita mengenai Tragedi situ Gintung naik ke media massa dan mulai terjadi ‘booming’ tersendiri. Berita itu – yang dipublikasikan besar-besaran – menajdi headline dalam beberapa hari di hampir semua surat kabar lokal dan nasional. Good news nya, adalah tak lama melalui berita tersebut, pihak-pihak yang ‘berkepentingan’ langsung ‘turun tangan’.

Pejabat pemerintah langsung meninjau loaksi penampungan korban, berkata ini dan itu, salam sana senyum sini, janji-janji dan....pulang. Tak lama, datanglah pejabat lain, melakukan hal yang hampir sama, bedanya hanya di jumlah dan cara sumbangan diberikan. Lucunya lagi, datanglah segerombolan artis yang ‘berkedok’ membawa bantuan, tatpi ujung-ujungnya mencari eksistensi diri. Mereka, dengan vulgarnya, mempertontonkan kebodohan mereka dengan kata-kata seperti, ‘wah, aku baru tahu ternyata di sini ada sebuah situ’ atau ‘ orang-orang disini ternyata sangat membutuhkan bantuan.’ Lalu, setelah itu, berfoto-foto dan...pulang. Kelompok yang bahkan tidak ‘bisa’ membaca surat kabar...Tidak penting...

Belum lagi, partai-partai politik yang memberikan bantuan. Hal itu dijadikan kedok bagi mereka untuk berkampanye. Bayangkan, betapa kompaknya mereka membantu saudara yang tertimpa bencana, namun begitu mandirinya mereka dalam memperkaya diri sendiri dan kelompoknya.

Ketika media mulai merubah headline nya, dari objek tragedi Situ Gintung menjadi subjek foto dan pendapat orang-orang penting yang datang berkunjung, di situlah media mulai menjalankan fungsi menyamankan yang sudah nyaman dan membuat menderita orang yang sudah menderita. Sungguh suatu ironi! Media massa dengan buta dan tulinya mengangkat semua yang hanya terlihat di permukaan. Semakin menjual nilai sebuah berita, semakin besar oplah, semakin besar gaji, cukup. Lalu, dimana letak hati nurani??

Bayangkan saja, jika anda berada di pihak korban selamat Situ Gintung. Bagaikan liha menganga ditabur garam. Sudah terkena bencana dan dampak-dampaknya, masih harus menanggung ekspos media yang selalu menyorot mereka dari sisi senagai orang yang lemah yang harus dibantu. Hey! Seberapapun menderitanya seseorang, ia masih cukup waras untuk tahu dimana harus menempatkan harga dirinya.

Namun, peran sentral media yang selalu mengekspos mereka justru menambah penderitaan mereka. Bayangkan saja, bagaimana jika anda, suatu malam sedang tidur dengan lelapnya, tiba-tiba terbangun di antara genangan air dari situ milik pemerintah dan paginya menemukan foto anda yang sedang kebingungan mencari mayat istri, anak, ibu atau saudara anda di koran nasional. Apakah bangga? Masuk koran dengan cara seperti itu dan dengan headline yang seperti itu? Saya rasa tidak.

Seharusnya media mengambil sikap. Dalam teori, media seharusnya melayani masyarakat dan hanya melayani pemerintah dalam hal penyediaan data yang akurat. Janganlah menjadi ‘anjing penjaga’ yang menjaga kemewahan pejabat pemerintah dan menggonggong pada ‘pemulung’ yang mencoba mencari sesuatu pada tempat sampah tuannya. Mulailah untuk membuat masyarakat kecil merasa bahwa tetap ada harapan untuk kehidupan yang lebih baik di masa mendatang, cukup dengan hanya memberitakan berita-berita baik tanpa mengesampingkan aspek kebenaran. Dan sadarkan orang-orang yang berada di zona nyaman mereka, bahwa mereka hanya merupakan minoritas dominan yang berada di sekeliling orang-orang menderita.

Tampaknya, idealisme Finley Dunne masih perlu banyak waktu untuk memasyarakat di kalangan jurnalis. Memasyarakatkan idealisme itu pada jurnalis dan semoga bisa menjadi stepping point bagi jurnalis yang memihak masyarakat.

_vEny FLoRencia aNgeLa SiNuRaya_

jika aku menjadi,,

TUKANG SAMPAH SEHARI

Aku mau cerita sedikit tentang pengalaman baruku menjalani posisi orang lain..

Suatu hari, aku dan temen2ku anak beasiswa wisma, dapet tugas buat pergi ke Susteran Gereja Jago, Ambarawa. Tugas dari MoEd, panggilan akrab Romo Edi, Romo Mahasiswa kami di Semarang, simpel saja, bakti sosial. Akhirnya, dengan terbata-bata, kami pun pergi ke Ambarawa sekitar jam stengah tujuh pagi, naik bis bareng2.

Sampai sana, ternyata kita beneran disuruh berbakti untuk sosial. Akhirnya lah, setelah dibagi tugas sama Suster Louisa, kami pun dengan tulang besi dan muka baja nya mulai beraksi! Ada yang kebagian motongin rumput taman, nyapu-nyapu, ngelapin jendela, ngerokin semen yang masih pada belom ngelotok di depan pintu Susteran. Dan,, entah sial atau beruntung,,(aku lebih suka menyebutnya beruntung), aku bersama Maria, salah seorang temanku, kebagian tugas nyapuin halaman teras merangkap tempat puteran mobil dan tempat parkir yang penuh dengan berbagai macam sampah. Mulai dari sampah daun, sampah makanan, dan kotoran2 yang tiada tara terlukiskan lewat kata2. Terlebih panasnya menyengat, kami pun membagi tugas, menyapu halaman nan luas itu dari ujung yang paling jauh dan kemudian sampahnya dikumpulkan di tengah.

Selagi kami bekerja, angin semilir datang dan membawa pergi hasil jarahan kami, sehingga kami, mau ga mau menata lagi kawanan sampah kami..Jam itu, ternyata jemaat Gereja misa ketiga baru keluar,, dan disinilah aku dapet pengalaman.

Ketika seorang Ibu lewat dan berkata,,sekali-kali ya mba,olahraga..terbersit dalam benakku, kenapa si Ibu itu sampe ngomong begitu?? Apakah dia jarang melihat seorang anak gadis kota bekerja sedemikian berkeringat?? Atau dia menyindirku karena tampangku menunjukkan tampang seorang ratu yang tidak pernah memegang sapu lidi yang besar itu???

Aku mulai berpikir,,kalau aja aku beneran tukang sapu di susteran itu, mungkin aku ga mikirin perkataan itu, karena memang itu tugasku.

Kawan, pernah ga sih kalian berpikir kalo kita seharian jadi tukang sapu daun2an di jalan, yang ga pernah diliat orang, padahal dia memegang peranan penting dalam menjaga kebersihan lingkungan tempat itu. Pernah ga kita berpikir, ketika kita menghina pekerjaannnya, itu tidak mengurangi penderitaannya, malahan membuatnya tambah down,,mungkin tukang sapu atau tukang-tukang apapun yang terkadang tidak terlihat di depan kita, merasa sakit hati, namun tidak dapat berbuat apa2, kerena memang begitulah mereka.

Mungkin pemahaman ku masih kurang mendalam, tapi yang pasti, aku dapat satu pengalaman baru,,ketika seseorang berurusan dengan sampah, bukan berarti dia juga sampah yang harus dihindari,,

Sebaliknya, kita lah yang seharusnya menjadi sampah jika kita tidak menghargai kerja mereka yang menurut orang mudah untuk dilakukan namun tidak pernah ada yang sukarela mau melaksanakannya..

Namun,,seberapa pun kita,,tetap ada proses daur ulang yang akan memurnikan kita untuk bisa berguna bagi sesama,,

Kawan,,tak pernah ada titik yang terlalu tepat untuk berubah. Mulailah dari titik dimana kamu berdiri sekarang dengan kemampuan yang kamu punya,,

SEMANGAT!!!!!

 
Wordpress Theme by wpthemescreator .
Converted To Blogger Template by Anshul .