Jumat, 22 Januari 2010

BABE..oh BABE!!



Kasus yang menarik untuk dibahas belakangan ini adalah kasus babe. Babe adalah nama panggilan seorang pria setengah baya yang terjerat hukum karena memutilasi anak jalanan kemudian melakukan kekerasan seksual pada korbannya. Kasus ini mencuat setelah jenazah salah satu anak korban mutilasi nya yang terakhir berhasil di-identifikasi polisi. Tanpa tedeng aling-aling, polisi pun segera melacak keberadaan Babe. Melalui pemeriksaan, Babe terbukti membunuh delapan orang anak yang semuanya laki-laki. Setelah dibunuh, Babe pun melampiaskan hasrat seksualnya pada jenazah korbannya. Sejak tahun 1998, empat diantaranya dimutilasi. Babe sendiri adalah “ayah jalanan” bagi anak-anak yang mencoba mencari rejeki dari jalanan. Ia sudah dianggap sebagai ayah yang menjadi tempat berlindung, sehingga banyak anak yang berlindung padanya. Maka, tak sulit baginya untuk melaksanakan maksud jahatnya. Kasus Babe mengingatkan kita pada kasus serupa yaitu Robot Gedek. Robot Gedek sendiri dijatuhi hukuman mati, namun ia keburu meninggal dalam tahanan di Nusa Kambangan sebelum hukuman mati sempat dilaksanakan. Akankah hal yang sama terjadi pada Babe?
“ Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Negara.” Jelas sekali bunyi UU itu terekam di kepala. Namun, fakta menunjukkan, anak terlantar dipelihara oleh jalanan. Jadi jangan salahkan jalanan jika banyak anak yang berlindung padanya, karena jalanan memberikan mereka kehidupan. Jangan hanya bisa menangkap anak jalanan, kemudian didata dan mereka dikembalikan ke jalanan. Untuk apa data itu? Hanya untuk menunjukkan bahwa Bangsa Ini memiliki sekian ratus atau sekian ribu anak jalanan. Bangga.
Lebih jauh, KITA lah yang harus bertanggung jawab atas mereka. Semua unsur masyarakat, mulai dari orang tua, sekolah, lembaga agama dan pemerintah harus turut memberikan perhatian pada hal ini. Butuh berapa banyak Babe agar kita sadar? Keluarga, sebagai institusi terkecil dalam masyarakat haruslah memberikan perhatian lebih kepada anak-anak agar mereka tidak lari ke jalanan. Fakta menyatakan, anak-anak yang ada dijalanan tidak semuanya berasal dari keluarga tidak mampu. Bahkan banyak dari antara mereka yang orang tuanya bekerja di perusahaan ternama. Kurang kasih sayanglah yang membuat mereka mencari ibu di jalan.
Setelah sedikit membaca artikel ini,
Langkah selanjutnya,, anda yang menentukan!

WARAK, KEBUDAYAAN YANG TERLUPAKAN


WARAK, KEBUDAYAAN YANG TERLUPAKAN

“Siapa yang kenal warak?” Mungkin pertanyaan itulah yang seharusnya ditanyakan, alih-alih pertanyaan “Siapa yang tak kenal warak?”. Ya, dari antara sekian banyak kebudayaan asli Semarang, warakngendog memang kebudayaan yang paling terlupakan. Warak adalah binatang imajiner hasil kebudayaan asli masyarakat Semarang. Warak digambarkan memiliki tubuh seperti kambing, dengan kepala naga dan berleher tinggi seperti unta. Tubuhnya bersisik seperti ikan dan terdapat telur pada bagian bawahnya. Pada setiap sudut tubuhnya, selalu bersudutkan tegas. Bentuk-bentuk ini melambangkan keragaman masyarakat Semarang yang bersifat egaliter, kerakyatan dan suka berterusterang. Warak juga menjadi lambang kerukunan antara etnis jawa, cina dan arab yang ada di Semarang.
Pada awalnya, warak sering ditampilkan pada kegiatan pasar malam sekitar tahun 1935. Seiring berjalannya waktu, warak ditampilkan saat festival dugderan pada awal bulan puasa. Asal katanya sendiri berasal dari bahasa Arab wira’i yang berarti menahan atau mencegah. Maksudnya adalah agar selama bulan puasa kita dapat menahan diri dari segala godaan.(telur melambangkan pahala yang didapat setelah memenangkan bulan puasa). Saat ini, perkembangan warak tanpa disadari semakin kaya. Mulai bermunculan warak-warak berbagai bentuk, seperti berkepala barongsai, atau berkepala kambing. Tapi semua bentuk itu tetap mencerminkan pluralitas masyarakat Semarang.
Sayangnya, perhatian pemerintah pada kebudayaan ini sangatlah minim. Warak hanya ditampilkan pada momenum tertentu seperti dugderan, tanpa ada nya moment, maka warak pun jarang keluar, sehingga semakin sedikit orang yang mengenalnya. Hanya orang tua kita, generasi kepala empat ke atas yang masih mengenal warak dengan baik. Sungguh disayangkan, mengingat sebenarnya generasi muda kitalah yang akan terus melestarikan kebudayaan kita, bukan lagi generasi orang tua kita. Perhatian pemerintah kepada budayawan dan para pelestari kebudayaan pun belum cukup. Banyak lembaga pelestari kebudayaan yang didirikan dan diorganisir secara swadaya, tanpa meminta bantuan pemerintah.
Tidak ada konklusi. Hanya pertanyaan,, ”sekarang, sudahkah anda mulai mengenal warak?”
Semoga segera.

Kamis, 21 Januari 2010

LET’S GET PARTY IN THIS LINE!



0809-123-XXXX.
MUNGKIN ANDA ADALAH SALAH SATU BAGIAN MASYARAKAT YANG SUDAH HAPAL DENGAN LAYANAN PREMIUM CALL SEPERTI INI. YA, INI ADALAH LAYANAN PARTYLINE. PARTY LINE ADALAH LAYANAN PEMUASAN HASRAT SEKSUAL VIA TELEPON HANYA DENGAN MENDENGARKAN SUARA PEREMPUAN. PENELEPON YANG KEBANYAKAN LAKI-LAKI DEWASA INI TINGGAL MENELEPON KE NOMOR TERSEBUT DAN AKAN LANGSUNG MENDAPATKAN CPL (CUSTOMER PARTY LINE) DAN MELALUI TELEPON PELANGGAN DAPAT MEMINTA CPL NYA UNTUK MEMENUHI HASRATNYA UNTUK BERIMAJINASI SEKSUAL. DAN SELANJUTNYA? ANDALAH YANG MENENTUKAN ARAH OBROLANNYA.
TAPI, PERNAHKAN ANDA BERPIKIR, KENAPA BISA MUNCUL LAYANAN SEPERTI PARTY LINE? MENURUT IMANIATI SASONO, KONSULTAN PSIKOLOGI DI RECRUITMENT AND TRAINING SPECIALIST, JAKARTA, KEHIDUPAN SEKS MANUSIA MODERN JUGA BERGERAK MENGIKUTI PERKEMBANGAN TEKNOLOGI. DEMIKIANLAH, TELEPON DAN KOMPUTER KINI SUDAH MENJADI PRASARANA DAN BAHKAN SARANA BARU DALAM BERHUBUNGAN SEKS, ATAU MEMUASKAN KEBUTUHAN BIOLOGIS.
MENDUKUNG IMANIATI SASONO, SOETJIPTO, STAF PENGAJAR SISTEM SOSIAL DAN BUDAYA INDONESIA, IISIP JAKARTA, MENJABARKAN BAHWA DALAM ERA GLOBAL, ORANG-ORANG KEHABISAN WAKTU UNTUK BEKERJA, DAN SEMAKIN KEHILANGAN WAKTU UNTUK MEMUASKAN KEBUTUHAN SEKSNYA. AKIBAT MINIMNYA WAKTU UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN SEKS INILAH, LAYANAN TELEPON SEKS MENJADI SARANA BARU. INI BISA DIKATAKAN HAMPIR SAMA DENGAN PERSELINGKUHAN, YANG KERAP TERJADI DI KALANGAN EKSEKUTIF ATAU SESAMA PEKERJA PROFESIONAL, KARENA RENDAHNYA INTENSITAS PERTEMUAN MEREKA DENGAN ISTRI ATAU SUAMI.
HUBUNGAN SEKS FORMAL MEMBUTUHKAN WAKTU KHUSUS, SEMENTARA HUBUNGAN SEKS MELALUI TELEPON BISA DILAKUKAN KAPAN DAN DI MANA SAJA. TIDAK ADA BATAS WAKTU DAN RUANG, SELAGI BEKERJA, PULANG KERJA, ATAU MENJELANG TIDUR PUN BISA DILAKUKAN. DAN DI LUAR SANA, LAYANAN SEKS PARTY LINE PUN SUDAH MENJADI BISNIS BARU YANG MENJAMUR DAN MENGGIURKAN. TIDAK SEDIKIT PULA IKLAN PARTY LINE MENYEBAR DI MEDIA MASSA, HINGGA BERKEMBANGNYA PARTY LINE TAK LEPAS DARI SEMAKIN MEMASYARAKATNYA MEDIA MASSA.
TAPI BENARKAH HANYA DEMIKIAN? HANYA ASPEK SEKSUAL KAH YANG MENJADI ALASAN? JIKA DITILIK LEBIH DALAM, TAMPAKNYA TIDAK. PEREMPUAN TERNYATA TEROPRESI OLEH STRUKTUR EKONOMI DAN IDEOLOGI PATRIARKI. PEMILIK ODAL MENYADARI BAHWA PEREMPUAN MEMILIKI MODAL TUBUH UNTUK BISA MENARIK PELANGGAN DAN MENGEMBALIKAN BAHKAN MELIPAT GANDAKAN MODAL. OLEH KARENA ITU, DIPILIHLAH PEREMPUAN-PEREMPUAN POLOS YANG MENCOBA MENGADU PERUNTUNGANNYA DI DUNIA EKONOMI, SEHINGGA MEREKA TIDAK MEMILIKI DAYA TAWAR YANG KUAT SEHINGGA IKUT SAJA DIBERIKAN PEKERJAAN APAPUN. TINGGAL MENGASH SEDIKIT KEMAMPUAN BERRKOMUNIKASI MEREKA, DAN JADILAH MESIN KAPITALIS YANG BISA BERJALAN. DITAMBAH LAGIO, KEYAKINAN DARI AMSYARAKAT BAHWA PERREMPUAN MEMANG SUDAH WAJAR DAN SEPANTASNYA UNTUK HIDUP MENYENANGKAN LAKI-LAKI (TERUTAMA DI MASYARAKAT KONVENSIONAL).
BANYAK CPL YANG MUNGKIN MERASA TIDKA NYAMAN DENGAN PEKERJAAN MEREKA ITU, YANG SERING DIBERI HURUF MERAH (SCARLET LETTER) OLEH MASYARAKAT SEBAGAI WANITA PROMISKUIS. NAMUN, KARENA STRUKTUR EKONOMI YANG MENJERAT MEREKA, APA BOLEH BUAT? DAN PRIA-PRIA YANG MENELEPON PUN TAK JARANG MENGAJAK KOPI DARAT DAN PERTEMUAN-PERTEMUAN SELANJUTNYA. ADAKAH MEREKA MENGERTI BAHWA SEHARUSNYA MEREKA BERHAK MENDAPATKAN HAK PEKERJAAN YANG SAMA, WALAUPUN MEREKA PEREMPUAN?
NAMUN, JANGAN HANYA BERADA PADA SATU ALIRAN PIKIR YANG SAMA DENGAN SAYA. MUNGKIN SAJA , MEMANG ADA CPL YANG DENGAN SADAR DAN SENANG HATI MENJALANI PEKERJAAN ITU. YANG PENTING KERJA DAN BISA MEMENUHI KEBUTUHANNYA TANPA HARUS MEMINTA ATAU MENGUTANG. KEMBALI, SETIAP FENOMENA SELALU MEMILIKI DUA SISI BERKAITAN YANG BISA DILIHAT DAN DIBOLAK-BALIK.
SO, DO YOU STILL WANNA GET PARTY IN THIS LINE??

HOTEL PRODEO : "RUPANYA" BENAR-BENAR HOTEL


HMM,,HOTEL YANG SATU INI TAMPAKNYA BISA JADI TEMPAT ALTERNATIF LIBURAN UNTUK ANDA YANG KEBETULAN MEMILIKI UANG BERLEBIH SEHINGGA TIDAK TAHU LAGI HARUS DIALOKASIKAN KEMANA. NAMUN SAYANGNYA, ANDA TIDAK BISA BEGITU SAJA MASUK KE DALAM HOTEL INI, KARENA PENJAGAANNYA YANG SANGAT KETAT. KARENA ITULAH, TIDAK SEMUA ORANG MAU BERLIBUR DI HOTEL INI, KECUALI ARTALYTA TAMPAKNYA.
YA, HOTEL YANG SATU INI SERING DINAMAKAN HOTEL PERODEO, ALIAS PENJARA, YANG NOTABENE BENAR-BENAR DISULAP MENJADI HOTEL PRIBADI OLEH TERDAKWA KASUS SUAP INI. KETIKA DIADAKAN INSPEKSI MENDADAK, ARTALYTA TERTANGKAP BASAH TENGAH BEROBAT PADA SEORANG DOKTER KULITNYA, DI DALAM SELNYA TENTU. DAN, WAW! JIKA DIHITUNG, LUAS KAMAR ARTALYTA SELUAS 8X8 METER, TEMPAT YANG SEMULA KANTOR PETUGAS PENJARA DISLUAP MENJADI KAMAR UNTUK ARTALYTA DAN DI DALAM SELNYA DITEMUKAN BERBAGAI MACAM KEMEWAHAN LUAR HOTEL YANG BISA DIBAWANYA MASUK. SEBUT SAJA KULKAS, TELEVISI LAYAR DATAR, BAHKAN TEMPAT DAN ALAT BERMAIN ANAK-ANAK, UNTUK ANAKNYA YANG SETIAP HARI DATANG MENJEMPUT. DI SEL TAHANAN LAIN, BAHKAN DITEMUKAN RUANG KARAOKE UNTUK MENGHILANGKAN KEBOSANAN DALAM PENJARA. SEMENTARA DI BLOK SEL YANG LAIN, LIMA RIBU NARAPIDNA WANITA LAIN TERPAKSA HARUS BERJEJALAN DI DALAM SATU SEL. JAUH SEKALI KEMEWAHAN YANG NAMPAK DISITU. HMM,,BAHKAN DI DALAM PENJARA PUN MAISH TERDPAT DISKRIMINASI YA?
JIKA DITILIK, APAKAH GAJI PETUGAS PENJARA ITU KURANG CUKUP SEHINGGA MEREKA MAU MENERIMA KONTRAK KERJA SAMA YANG ‘MENGUNTUNGKAN’ ITU? TAMPAKNYA TIDAK. SUDAH BEBERAPA KALI INI PNS DI BUMI PERTIWI MEMINTA KENAIKAN GAJU DENGAN ALASAN BIAYA KEBUTUHAN HIDUP JUGA MENINGKAT. ATAUKAH KARENA MORAL MEREKA YANG SUDAH BENAR-BENAR TERGEROGOTI OLEH UANG? MUNGKIN SAJA. KARENA SELAMA INI SISTEM PENDIDIKAN KITA JUGA HANYA MEMENTINGKAN HASIL DAN BUKAN PROSES, JADI BUKAN SALAH SIAPA-SIAPA KALAU KITA MENDAPATKAN NILAI A+ UNTUK MATA PELAJARAN PPKN, AGAMA DAN BUDI PEKERTI.
MEMANG BENAR-BENAR KEADILAN DI BUMI INDONESIA INI SUDAH LUSUH, TIDAK TERPAKAI LAGI. YANG BERKUASA ADALAH YANG MEMPUNYAI UANG. BENAR TIDAK IBU-IBU? *VERSI AA GYM. LALU, KIRA-KIRA DIMANA KAH SANG KEADILAN ITU BERADA? APAKAH DI PENJARA MEWAH ARTALYTA YANG DIDUKUNG BERKELIT OLEH TEMANNYA, “TIDAK ADA SEORANG PUN YANG MAU MASUK PENJARA, JADI JANGAN MENJUDGE KAMI SEPERTI ITU DONG” ATAU KAH SI KEADILAN ITU ADA DI PENJARA BERSAMA LIMA RIBU NARAPIDANA WANITA DALAM SATU BLOK? ATAU MUNGKIN SI KEADILAN ITU MALAH BERADA DI PENJARA BAWAH TANAH, DIMANA TIDAK ADA SINAR DAN TERKURUNG DARI DUNIA, TIDAK BISA BERBUAT APA-APA?
HMM, MARI KITA TANYAKAN PADA MEREKA. DIMANA MEREKA MENYEMBUNYIKAN KEADILAN ITU??

Jumat, 08 Januari 2010

Tips : Merawat Sendiri Komputermu

Pernahkan kamu merasa bermasalah dengan komputermu? Salah satu penyebabnya mungkin karena perangkat keras komputermu kotor sehingga menyebabkan kinerja komputer menjadi lambat. Untuk menjaga kebersihan komputer tidaklah sulit.
Untuk mencegah masuknya debu ke dalam komputer, kamu cukup mengelap hardware komputer dengan lap kering secara teratur. Selain itu, penggunaan cover khusus untuk LCD, keyboard, dan mouse dapat meminimalisir kerusakan yang fatal apda komputer. Hindari pula meletakkan komputer di tempat yang lembab atau basah dan dekat dengan medan magnet. Hal ini untuk mencegah agar medan radiasi komputer tidak rusak. Perawatan sistem komputer juga dapat dilakukan dengan selalu meng-update antivirus agar kinerja komputer tidak terhalang virus.
Sebagai media penyimpanan data, hardisk dan media storage adalah bagian komputer yang paling rawan terkena kerusakan. Kedua media ini rentan terhadap fluktuasi tegangan listrik. Namun, kita bisa menggunakan stabilizer dan UPS sebagai alat penyeimbang tegangan. Nah, sekarang, jangan malas lagi merawat komputermu ya!

Patriarki Tanah Batak



Sumatra Utara. Daerah geografis yang banyak didiami oleh suku Batak ini memiliki banyak cerita tersendiri. Mulai dari tanahnya yang subur, udara yang sejuk, karakteristik penduduknya yang keras dan suka petualangan hingga kebudayaan nya yang unik namun terlestarikan. Salah satu unsur kebudayaan yang terlestarikan adalah adanya kesadaran melestarikan budaya patriarki.
Marga salah satu contohnya. Dari sekian banyak keturunan dan keluarga Batak, marga menjadi salah satu penanda kekeluargaan. Mereka dapat saling mengenal silsilah dan hubungan antar keluarga dengan meneliti marganya. Konon, marga adalah nama raja pada zaman dahulu yang memerintah pada suatu daerah. Masyarakat Batak saat ini pada umumnya memiliki kebanggaan lebih jika memiliki anak laki-laki daripada hanya memiliki anak-anak perempuan. Hal ini dikarenakan anak laki-laki lah yang nanti akan meneruskan marga keluarga tersebut dan jika dikaitkan dengan harta warisan,anak laki-laki lah yang akan meneruskan warisan tersebut. Jika tidak ada anak laki-laki dalam keluarga, maka konsekuensinya adalah marga keluarga itu akan berhenti sampai disitu dan warisan akan jatuh ke tangan keluarga lki-laki ayah yang memiliki anak lak-laki. Sementara anak perempuan, akan dibeli oleh keluarga lain dan akan mengikuti keluarga suaminya.
Budaya patriarki pun terlihat dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam suatu pertemuan, para perempuan lah yang sibuk di dapur dan melayani kebutuhan makan laki-laki. Sementara laki-laki biasanya duduk di ruang depan sambil bercengkerama. Ketika makan pun, biasanya yang dipersilahkan makan terlebih dahulu adalah para laki-laki. Ketika mereka sudah mengambil makanan, baru perempuan boleh mengambil makanan. Itu pun mereka harus makan dengan cepat sebelum laki-laki selesai, untuk kemudian mengambil piring dan membersihkannya.
Itu hanya sebagian contoh dari budaya patriarki tanah Batak. Walaupun pada saat ini, masyarakat Batak yang tinggal di kota lebih bersifat terbuka dan demokratis, namun budaya patriarki tetap tidak bisa dilepaskan. Perlu diakui, kebudayaan ini terus dilestarikan dalam keluarga Batak, dan entah sadar ataupun tidak, perempuan yang sebenarnya teropresi oleh kebudayaan ini, memiliki setidaknya sedikit ‘hidup yang berguna’ ketika menuruti budaya ini. Akan sangat tidak sopan dan aneh jika perempuan makan terlebih dahulu dibanding para laki-laki dan duduk bersama laki-laki di ruang depan. Mereka akan lebih dihargai jika sudah menyelesaikan semua tugas rumah tangga mereka dan berkumpul dengan yang lain di ruang belakang. Dan, perempuan-perempuan Batak memang senang melakukan hal ini, entah kesenangan itu datang dari dalam diri mereka sendiri atau didikan keluarga mereka.
Jadi, jika perempuan senang berada di bawah bendera patriarki, haruskah patriarki itu dihapuskan??

Take Me Out,, Really take It Out!!


Siapa yang tidak kenal dengan satu-satunya program acara perjodohan yang disadur oleh salah satu televisi swasta Indonesia saat ini? Dipandu oleh sosok artis yang tampan dan hampir membuat penonton wanitanya tergila-gila, ditambah dengan jam tayang yang jika dihitung siaran ulangnya bisa mencapai setengah hari sendiri, program ini mampu menarik perhatian masyarakat sejenak dari tayangan infotainment dan sinetron. Hampir semua orang tahu dan membicarakannya. Program Take Me Out dan Take Him out ini memang termasuk acara yang menggebrak- selain juga menghibur-. Dilihat dai sisi budaya, program ini mendobrak tatanan dan konstruksi gender yang ada di masyrakat. Jika selama ini perempuan selalu harus menunggu untuk dipilih laki-laki idamannya, maka pada program ini, perempuan lah yang berkuasa atas pilihannya sendiri. Mereka bebas memilih - untuk menerima, menolka, atau hanya ingin mempermalukan – pria-pria yang keluar dari pintu yang bercahaya itu. Pada program Take Him Out pun sama. Walaupun pria yang memilih wanita, namun pada akhirnya tetap wanita lah yang menentukan, apakah mau menerima pria yang telah memilihya itu. Harus diakui, program ini memang memberikan pencerahan baru, terutama bagi remaja yang sedang puber. Mengingat ratingnya yang juga tinggi, maka tidak mengherankan jika suatu hari kita menemui di masyarakat wanita akan lebih berkausa dibanding laki-laki.
Akan sangat menyenangkan jika terjadi persamaan gender seperti itu. Namun tetap jangan dilupakan, bahwa kita bermain dengan media, dimana kotak ajaib ini bisa melakukan dan membuat segala sesuatunya menjadi mungkin. Harus diakui, tetap ada pertanyaan, apakah semua adegan dalam program ini memang berjalan natural atau banyak diatur sana-sini, bahkan menggunakan skenario tersendiri yang mengatur nanti si A harus menolak si B dan menerima si C. Sangat disayangkan jika terjadi banyak campur tangan dari pihak dalam media sendiri. Selain tidak lagi murni, hal ini hanya akan membuat kesadaran palsu (false consciousness) di masyarakat. Mereka akan mengira bahwa kebudayaan patriarki sudah mulai dirubah, padahal semua itu lagi-lagi hanyalah hasil konstruksi media terhadap realita.
So, is it really take we out??

Rabu, 06 Januari 2010

Hak memilih atau kewajiban Memilih?


Golput. Golongan putih yang sering didengungkan ketika ad pesta demokrasi yang dilaksanakan, baik itu tingkat nasional, tingkat procinsi, kotamadaya bahkan sampai ke desa-desa. Kenapa selalu ada golput? Padahal jika ditilik ke beberapa tahun yang lalu, istilah ini tidaklah terlalu populer, hanya saja meningkat ketika memasuki babak reformasi. Di manakah salahnya?Apakah karena kebanyakan partai politik sekarang tidak memiliki visi dan misi yang jelas? Ataukah kekecewaan rakyat yang terlalu mendalam dan tak terobati lagi? Atau justru karena kesadaran memilih rakyat yang sudah tinggi?
Berkaca dari pernyataan, tidak memilih adalah juga sebuah pilhan. Lalu, bagaimana selanjutnya? Apakah dengan bebuat begitu akan ada sebuah perubahan yang berarti? Bayangkan jika satu suara mewakili satu jiwa yang ingin berubah, maka bukankah kita memang tidak menginginkan adanya perubahan bagi bangsa ini?Walaupun Indonesia dikenal dengan negara demokrasi, tapi perilaku seperti ini bukanlah sebuah perilaku demokrasi yang baik.Faktanya, yang lebih banyak menggunakan hak golputnya adalah golongan masyarakat yang stratanya menengah ke atas, baik dari sisi ekonomi, penidikan maupun sosial.
Memang selama ini dikatakan bahwa memilih adalah sebuah hak, bukan kewajiban, Dnegan kata lain, kita bebas dan tidka terikat sangsi apapun jika kita tidak memilih. Beda dengan kewajiban, dimana kita dituntut untuk melakukan sesuatu, atau sangsi yang berlaku akan menjerat kita. Namun, pertanyaannya, apakah kesadaran harus diarahkan dan diapaksa sedemikian rupa sehingga memiliki satu pemahaman? Rasanya tidak juga.
Jika kita tetap berpegang bahwa memilih adalah hak, maka pembahasan ini cukup sampai disini. Namun, jika masih ada kesadaran pikir untuk mengubah tatanan menjadi ‘kewajiban’ memilih, maka rasanya akan ada pembahasan kontroversial lagi kedepannya. Wajib memilih. Siapkah kita??

Bicara tentang politik kampus

Politik. Mungkin ebagian besar kaum muda bangsa ini sangat antipati terhadap bahan disukusi yang satu ini. Tidak masuk akal sehat, tidak penting dan tidak mau berhubungan langsung dengannya. Mungkin ini sebagian besar alasan kenapa mahasiswa kita sekarang ini, jangankan melakukan perubahan horisontal terhadap bangsa, meningkatkan rasa rindu untuk melakukannya juga msih sulit.
Tidak dapat dipungkiri memang bahwa ada sebagian mahasiswa yang aktif di bidang politik, di kampus khususnya memang melakukan hal-hal yang sedikit anarkis di kampus. Tengok saja contoh kasus di sebuah kampus. Menjelang pemilihan Presiden BEM, semua ekstra yang memiliki kaki tangan di kampus tersebut tidak segan-segan turun tangan untuk memenangkan kandidatnya, bahkan sampai pengrudsakan fasilitas kampus. Bila kita bandingkan dengan era-era yang telah kita lewati, mulai dari kemerdekaan, orde lama, orde baru, reformasi dan demokrasi sekarnag ini, masih relevankah tujuan politik yang seperti itu? Bukankah itu hanya akan mencoreng citra politik yang bertujuan sebagai peningkatan pelayanan terhadap masyarakat luas? Namun yang nyata sekarang, tujuan politik hanyalah pencapaian puncak kekuasaan demi kepentingan pribadi,
Maka tak salah juga jika mahasiswa dan kaum muda yang memiliki idealisme tinggi tidak mau berpolitik di kampus. Walaupun, tanpa disadari setiap bagian dari sisi kehidupan manusia selalu menggunakan politik sebagai alat untuk mendapatkan keinginannya. Lihat saja, bagaimana mahasiswa-anak kost umumnya- berpolitik dengan mengatakan pada orang tuanya bahwa uang bulanannya sudah habis dan meminta untuk dikirimkan, padahal hanya untuk jajan semata. Atau, yang paling sering terjadi, istilah TA (titip absen) yang sering dilakukan ketika matakuliah nya membosankan dan lebih memilih untuk nge-mall dengan teman-temannya. Bukankah ini semua juga adalah bentuk politik halus yang dilakukan dalam hidup sehari-hari?
Jadi, bagaimana mungkin kita tidak berpolitik? Tinggal dipilih saja, politik jenis apakah yang ingin kita ikuti. Partai politik kah, ekstrakurikuler kah, atau hanya politik halus kehidupan.
Jadi, mahasiswa. Berpolitikkah anda?

waktu, diam!

Berhentilah sekali-sekali dan nikmati dirimu
Jangan berlari begitu
Nanti semua orang kalang kabut
Aku hendak berhenti sejenak, melihat-lihat kehidupanku lagi
Tolong kamu kembali ke bagian awal aku menulis bait ini
Tidak bisa kan?
Aku tahu kamu tidak bisa
Dari semua hal yang bisa kamu lakukan terhadap aku dan orang lain
Aku tahu hanya satu hal ini yang tidak bisa kamu lakukan
Berputar, mudur, kembali ke satu detik yang lalu
Tahu kenapa?
Karena namamu adalah waktu
Coba namamu cinta, pasti bisa.
BAYANGAN SEMU KOTAK AJAIB
Media. Satu kata yang dapat ditelisik lebih dalam dari berbagai sisi. Bahkan dari sisi yang dianggap tabu untuk dibahas dalam ranah publik. Siapa bilang media objektif? Siapa bilang media tidak memihak? Tidak ada. Kecuali para pemilik modal. Siapa memberi lebih banyak, mendapat lebih banyak.
Ya. Mungkin itulah hal yang belakangan ini menjadi bahasan yang menohok publik. Media yang selama ini diirepresentasikan sebagai wakil publik dalam mengetahui berbagai informasi penting dan berguna bagi pihak yang diwakilkan ini ternyata malah berkutat sendiri dengan kepentingan intern nya.Sudah banyak bukti yang menunjukkan bahwa media ternyata tidak bekerja untuk publik yang diwakilkan, melainkan untuk para pemegang modal yang memberi perut mereka makan, yang membuat dapur mereka tetap mengepul. Sementara publik? Yah, bisa lah itu di atur. Mungkin itulah yang menjadi mindstream mereka sekarang. Siapa yang memberi lebih banyak, menerima lebih banyak.
Contoh nyata salah satu media yang banyak disorot karena ketidakberpihakannya (pada publik) ini adalah televisi. Ya . Televisi sebagai kotak ajaib memang menyodorkan semua hal yang menyenangkan untuk dinikmati. Apapun yang kita inginkan, bisa ditampilkan oleh kotak ajaib ini, bahkan hal yang kita tidak inginkan untuk dinikmati pun ada di sini. Keberadaannya pun bukan lagi barang langka, melainkan barang yang biasa seperti baju atau sepatu, kuantitasnya banyak dan bisa diganti-ganti sesuka hati.
Namun, seberapa kita sadar bahwa tayangan kotak ajaib ini memberikan pengaruh yang lebih banyak negatifnya terhadap masyarakat? Lihat saja tragedi tayangan smake down dulu, dimana efek psikologis tayangan itu menyebabkan anak-anak memilih jalan yang lebih keren untuk bisa berkelahi dengan temannya, bahkan tidak jarang menimbulkan korban jiwa. Belum lagi, tayangan yang irasional, seperti yang ditayangkan salah satu televisi swasta. Bagaimana mungkin manusia yang sudah mati dapat berubah menjadi naga dan memakan musuhnya? Atau juga bagaimana mungkin seorang pembantu rumah tangga dapat begitu tabahnya disiksa terus menerus sepanjang hidupnya tanpa ada perlawanan, dan hanya menangis? Jika pun ada, acungan dua jempol karena ketabahannya menjalani hidup yang apa adanya itu.
Begitu pun dengan tayangan berita. Bukan zamannya lagi menilai berita sebagai sesuatu yang objektif. Proses yang dilakukan pun tidak lagi menyiarkan berita tapi membuat berita. Mulai dari lapangan tempat berita diambil, lalu di berikan pada editor dan terakhir digodok di ruang redaksi, tempat semua kepentingan bersatu dan menghasilkan rekonstruksi berita yang baru. Jika pun cara yang ditempuh tidaklah demikian, berita yang kita lihat di televisi kemungkinan besar bukanlah peristiwa yang sebenarnya terjadi di lapangan, karena proses produksinya yang sangat subyektif akan menghasilkan berita yang juga sangat subyektif.
Lalu dimana letak fungsi edukasi dan informatif yangg seharusnya dijunjung media? Bukan hanya sekedar edukasi dan informatif. Tapi pendidikan yang mendidik moral dan akal bangsa dengan memberikan informasi berupa teks yang berisi data yang benar, akurat dan terpercaya serta komprehensif. Bagaimanakah peran kepemilikan modal dalam media televisi Indonesia? Berjalankah fungsi edukasi dan informasi televisi terhadap publiknya?
Dimensi Televisi
Di semua sisi kehidupan dan ekonomi masyarakat, pasti dibutuhkan aliran modal untuk membuat sebuah bisnis atau kegiatan dapat berjalan. Tidak ada yang salah dengan kepemilikan modal ini, karena hal ini menjadi hal yang mutlak diperlukan dan memberikan stimulan agar suatu kegiatan dapat berjalan. Dalam media, cukup banyak media yang memanfaatkan atau dimanfaatkan oleh pemegang modal yang berbentuk saham ini. Ambil salah satu contoh yang nyata-nyata dapat dilihat. MetroTV contohnya. MetroTV yang dimiliki oleh Surya Paloh ini memang sangat patuh pada apa kata tuannya. Bukan rahasia lagi, bahwa Surya Paloh memanfaatkan MetroTV sebagai salah satu ajangnya mempromosikan diri sebagai salah satu calon anggota legislatif lalu.
Di setiap jadwal iklan, pasti terdapat wajahnya dengan berbagai slogan dan atribut partainya. Bukan hanya itu saja. Bahkan intervensi kepemilikan modalnya berimbas sampai ke pemberitaan medianya. Sangat jelas sekali bahwa selama masa kampanye berlangsung, MetroTV hanya menampilkan sosok Surya Paloh dan Partai Golkar dalam image baiknya. Sangat jarang MetroTV mau menampilkan sosok lain yang bukan dari Partai Golkar atau sekutunya. Sekalipun ada, maka berita yang akan ditampilkan adalah semua kekurangannya, seperti melanggar ketentuan kampanye dan sebagainya. Bukannya Partai Golkar tidak ada. Ada, namun hanya dalam kapasitas kecil, dan itu pun lebih sering menyalahkan pihak lain atau malah mengalihkan pemberitaan.
Selain itu, jika kita amati, sering sekali tokoh Partai Golkar diundang untuk menjadi tamu atau narasumber di acara-acara MetroTV, namun tidak pernah ada tokoh partai lain yang tampil disitu. Jangan harap pernah melihat SBY tampil dengan santainya dalam acata MentroTV.
Kepemilikan modal yang dimiliki oleh Surya Paloh membuatnya memiliki free ticket untuk masuk ke daerah yang seharusnya menjadi hak publik untuk mengetahui hal yang benar. MetroTV mampu membangun image nya menjadi televisi berita yang akurat dan dapat dipercaya (hal ini terbukti dengan banyaknya program berita yang disiarkan MetroTV). Namun, apa jadinya jika pemberitaannya menjadi tidak berimbang? Masyarakat yang tidak mengetahui hal ini, akan sering saja menonton MetroTV dan sepenuhnya percaya akan semua yang disodorkan oleh televisi. Dalam hal ini, tayangan yang ditayangkan adalah realitas semu. Semu dalam artian hal yang dalam kenyataan sebenarnya tidak ada, diadakan bahkan dibelokkan sehingga dapat menimbulkan asumsi tertentu di masyarakat.
Beda MetroTV beda lagi dengan TVOne. Channel yang mengangkat grand theme sebagai TV pemilu tidak ditunggangi oleh salah satu pemilik modal saja. TVOne yang dimiliki oleh Karni Ilyas mampu menunjukkan kredibilitasnya sebagai TV pemilu yang memang adil, berimbang dan tidak memihak. Pemberitaan yang dilakukan oleh TVOne mencangkup semua partai, semua tokoh dan pemberitaannya berimbang dan terbuka. Jika salah, maka akan dikatakan salah, jika benar akan dikatakan benar.
Acara yang ditayangkan oleh TVOne, baik dari berita, maupun dialog seperti debat presiden dan apa kabar Indonesia mampu menyerap aspirasi masyarakat yang ingin mengetahui lebih dalam mengenai calon presiden yang akan dipilihnya. Jika di TVOne, kita dapat berharap siapa saja dapat muncul dan memberikan komentarnya dalam sebuah acara tanpa tendensi dari pihak manapun.
Walaupun begitu, memang tidak dapat dipungkiri bahwa pada dasarnya media selalu memiliki celah untuk dimasuki unsur subyektivitas, yang menyebabkan berita menjadi tidak berimbang. Memang tidak mungkin untuk menghilangkan subyektivitas, karena yang melakukan semua prosesnya juga adalah seorang subjek. Yang dapat dilakukan adalah mengurangi kadar subyektivitas tersebut. Berita yang objektif adalah berita yang unsur subyektivitasnya paling kecil atau rendah. Tapi disamping itu juga, self-sensorship dari pemirs televisi juga dibutuhkan untuk membantu menyaring informasi yang diterima dari media.
Tidak akan ada yang berubah jika masyarakat sendiri tidak aktif untuk membantu media membenahi diri. Perlu sinergi dari berbagai pihak seperti masyarakat, lembaga pengawas media dan pemerintah untuk meningkatkan kualitas moral dan edukasi dari media kita.
Media : Representasi dan Konstruksi

Representasi adalah sebuah fenomena yang, dalam bentuk-bentuk yang berbeda (peristiwa mental, pernyataan verbal, gambar, suara, dll), memperlihatkan sebuah ciri simbolis yang menggantikan obyek itu sendiri, dan dimana obyek itu bisa berasal dari dunia materi, peristiwa, manusia, sosial, ide, dan imajiner
(http://diannisa.wordpress.com/2008/04/20/apa-itu-representasi-sosial/)
Merujuk dari definisi yang disebutkan diatas, disesuaikan dengan kondisi media dan representasi sosial yang dilakukannya, dapat dikatakan bahwa isi media bukan merupakan cerminan realitas sosial masyarakatnya. Peristiwa yang sering diberitakan media massa baik media elektronik maupun media cetak sesungguhnya seringkali berbeda dengan peristiwa sebenarnya. Hal ini dapat terjadi karena media tidak semata-mata sebagai saluran pesan yang pasif akan tetapi media pun aktif melakukan konstruksi terhadap peristiwa.
Selama ini kita sering terperangkap oleh statement, bahwa media menayangkan apa yang terjadi di masyarakat, padahal yang terjadi sebenarnya adalah media mengambil sebuah realitas dari masyarakat, menyaringnya dengan cara mengambil realitas yang diinginkan dan membuang realitas yang tidak diinginkan. Lalu, sebagian realitas yang ingin ditunjukkan tersebut, dibingkai sedemikian rupa sehingga membentuk sebuag realitas baru, yang kemudian ditayangkan. Dengan demikian, masyarakat mendapati bahwa ‘realitas setengah matang’ tersebut adalah realitas yang sesungguhnya terjadi.
Melalui iklan, media mencoba menciptakan kebutuhan manusia. Hal yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan, dikonstruksikan sehingga menjadi sangat dibutuhkan. Banyak sekali iklan yang menayangkan inti yang sama, perbaikan bentuk tubuh. Memang, tubuh kita adalah bahan konsumtif yang paling semarak. Melalui iklan-iklan kecantikan tubuh, penambah semangat serta kesehatan tubuh, media berusaha membuat realitas baru bahwa tubuh yang cantik adalah yang halus, putuh dan wangi. Hal ini bertentangan dengan realitas yang ada sebenarnya, bahwa kulit penduduk Indonesia- termasuk wanita, yang paling konsumtif dalam hal ini- rata-rata berwarna coklat atau kuning langsat. Realitas baru yang diciptakan oleh media ini sama sekali tidak merepresentasikan keadaan yang ada, malah membuat realitas baru (realitas kekinian)
Melalui berbagai instrumen yang dimilikinya media berperan serta membentuk realitas yang tersaji dalam pemberitaan. Kontruksi terhadap realitas dapat dipahami sebagai upaya “menceritakan” (konseptualisasi) sebuah peristiwa, keadaan, benda atu apapun.
Wartawan ketika melihat suatu realitas ia menggunakan pandangan tertentu sehingga realitas yang hadir merupakan realitas yang subjektif. Berbeda dengan dengan pandangan yang mengandaikan terdapat realitas “berada diluar sana” yang objektif, mengutip jargon film seri fiksi ilmiah The “X” Files, the truth is out there (kebenaran itu berada di luar –manusia). Realitas (fakta) bukanlah sesuatu yang terberi (reality is not given) melainkan ada dalam benak kita ungkap James W. Carey. Fakta atau realitas itu diproduksi dan dikonstruksi dengan menggunakan perspektif tertentu yang akan dijadikan bahan berita oleh wartawan. Maka tak mengherankan jika media memberitakan berbeda sebuah peristiwa yang sama karena masing-masing media memiliki pemahaman dan pemaknaan sendiri.
Dalam pandangan Peter D. Moss berita di media massa merupakan konstruksi kultural, dalam melihat realitas sosial media menggunakan kerangka tertentu untuk memahaminya. Media melakukan seleksi atas realitas, mana realitas yang akan diambil dan realitas mana yang ditinggalkan. Juga media kerap memilih nara sumber mana yang akan diwawancarai dan nara sumber mana yang tidak diwawancarai. Melalui narasinya media sering menawarkan definisi-definisi tertentu mengenai kehidupan manusia. Mana yang baik dan mana yang buruk, siapa pahlawan dan siapa penjahat, apa yang layak dan apa yang tidak layak untuk dilakukan seseorang. Dalam ungkapan Dennis McQuail, media massa merupakan filter yang menyaring sebagaian pengalaman dan menyoroti pengalaman lainnya dan sekaligus kendala yang mengahalangi kebenaran.
Dalam kegiatannya melaporkan peristiwa yang terjadi, pada dasarnya media menafsirkan dan merangkai kembali kepingan-kepingan fakta dari realitas yang begitu kompleks sehingga membentuk sebuah kisah yang bermakna dan dapat dipahami oleh khalayak. Menurut Eriyanto ada tiga tingkatan bagaiamana media membentuk realitas, pertama media membingkai peristiwa dalam bingkai tertentu. Kedua, media memberikan simbol-simbol tertentu pada peristiwa dan aktor yang terlibat dalam berita. Ketiga, media juga menentukan apakah peristiwa ditempatkan sebagai hal yang penting atau tidak. Tidak berlebihan jika Tony Bennet menyebut media sebagai agen konstruksi sosial.
Media. Konstruksi atau representasi kah?
 
Wordpress Theme by wpthemescreator .
Converted To Blogger Template by Anshul .